Syekh Yusuf Saigon Al-Banjari - Ulama Hartawan dan Dermawan

Syekh Yusuf Saigon Al-Banjari - Ulama Hartawan dan Dermawan

Salah seorang anak Mufti Jamaluddin bin Muhammad Arsyad al-Banjari, ialah Muhammad Thasin al-Banjari. Beliau mengembara ke beberapa buah negeri kerena menyebarkan agama Islam terutama sekali dalam bidang ilmu tajwid. Sewaktu beliau merantau ke Brunei, beliau kawin di sana, memperoleh anak bernama Ramli. 

Diriwayatkan banyak keturunannya di Brunei dan Sabah. Muhammad Thasin al-Banjari meneruskan perantauannya ke Pontianak, Kalimantan Barat memperoleh tiga orang anak lelaki, yaitu Muhammad Yusuf, Muhammad Arsyad dan Abdur Rahman. Diriwayatkan, bahwa Muhammad Yusuf bin Haji M.Thasin setelah belajar ilmu-ilmu keislaman secara mendalam, beliau meneruskan usaha akhirnya menjadi saudagar intan. 

Muhammad Yusuf juga merantau ke seluruh tanah Kalimantan. Selanjutnya Muhammad Yusuf merantau ke Sumatera, hingga beliau meneruskan perantauannya ke luar negeri, yaitu ke Saigon dan Kemboja. Saigon adalah nama populer dari "Ho Chi Minh City" ibukota Vietnam. Di negeri yang pernah berkecamuk perang beberapa tahun tersebut, Yusuf hidup berniaga. Dengan menggunakan kapal yang ditumpanginya, kehidupan dengan berdagang di atas sungai dijalaninya. 

Bertahun-tahun hidup di negeri orang, Yusuf kemudian menemukan tambatan hati seorang gadis Saigon yang bernama Niah. Gadis tersebut kemudian dipersunting dan resmi menjadi istrinya. Setelah melangsungkan perkawinan, beberapa tahun kemudian Yusuf memboyong istrinya untuk kembali melakukan pengembaraan. Kali ini bukannya pengembaraan ke kampung halaman yang ditempuhnya. Yusuf memilih untuk menyinggahi Kesultanan Pontianak, daerah bandar perdagangan yang begitu terkemuka pada saat itu. Kepandaian Yusuf ternyata menarik hati Sultan Pontianak Syarif Muhammad bin Syarif Yusuf Alkadrie (1895—1944). Bahkan Sultan menghargai Yusuf dengan memberikannya sebuah tempat atau kawasan untuk dibangun serta dimukiminya. Pemberian tersebut bermula dari permintaan sang ulama untuk diberikan tempat agar bisa menetap dan mengajarkan ilmu-ilmu keislaman. 

Hal yang sama dilakukan Yusuf ketika masih menetap di Saigon. Gayung bersambut, bukan hanya pemukiman yang dihadiahkan kepada Yusuf, Sultan juga menitahkan kepada sebagian masyarakat Pontianak pada saat itu untuk menjadikan Yusuf sebagai panutan dan berguru kepadanya. Titah tersebut menjadikan Yusuf sangat bersemangat membangun perkampungan baru yang kini terletak di sepanjang Jalan Tanjung Raya II. Masyarakat yang dititahkan ikut bersamanya kemudian membantu Yusuf membuka tiga buah perkampungan.

Di Pontianak, Muhammad Yusuf membuka tanah perkebunan Karet/Getah yang sangat luas. Setelah usahanya berhasil, diberinya nama kampung itu sebagai “Kampung Saigon”. Keputusan tersebut diterbitkan Sultan dalam prakiraan tahun 1926 Akhirnya beliau sendiri terkenal dengan panggilan Yusuf Saigon dan hilanglah nama Banjarnya. Banyak orang menyangka Muhammad Yusuf adalah orang Saigon bukan orang Banjar. Kedua anak Muhammad Thasin al-Banjari yang tersebut di atas, yaitu Muhammad Yusuf dan Muhammad Arsyad Pontianak, setelah mereka melihat kesuburan pohon-pohon Karet/getah hasil usaha gigih dan susah payah mereka sendiri, bangkitlah kembali cita-cita untuk meneruskan perjuangan moyang mereka, yaitu Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari yang sangat masyhur itu. Mereka berdua bertekad, bahwa tiada satu perjuangan pun yang lebih mulia, dapat menyelamatkan seseorang sama ada di dunia maupun akhirat, melainkan perjuangan menyebarkan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh para nabi dan rasul Allah. Bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w., nabi dan rasul akhir zaman adalah satu-satunya agama yang wajib diperjuangkan oleh setiap insan Muslim. 

Urusan mencari dana untuk kepentingan umat Islam ditangani oleh Muhammad Yusuf, sedangkan untuk propaganda dan dakwah dilakukan oleh saudaranya, Muhammad Arsyad. Cita-cita kedua-dua adik beradik itu dikabulkan oleh Allah, kerana dalam tahun 1925 M. 

Datanglah seorang pemuda yang alim dari Ketapang bernama Abdus Shamad yang mendapat pendidikan di Madrasah Shaulatiyah, Mekkah. Salah seorang guru beliau di Madrasah Shaulatiyah, Mekkah ialah Tengku Mahmud Zuhdi bin Abdur Rahman, yang kemudian dikenali sebagai Syeikhul Islam di Kerajaan Selangor. Abdus Shamad ditampung oleh Muhammad Yusuf Saigon, lalu didirikanlah pondok-pondok tempat tinggal para pelajar, ketika itu berdirilah Pondok Pesantren "Saigoniyah" yang dianggap sebagai pondok pesantren yang pertama di Kalimantan Barat. Pesantren tersebut selesai dibangun pada tahun 1927. Sungguhpun demikian, sebenarnya sistem pendidikannya bukan sistem pondok, kerena ia juga mempunyai bangku-bangku tempat duduk para pelajar. 

Dikatakan sebagai pondok pesantren yang pertama di Kalimantan Barat hanyalah kerena di Pondok Pesantren Saigoniyah yang pertama sekali terdapat pondok-pondok tempat tinggal para pelajar yang dimodali oleh Muhammad Yusuf Saigon. Hanya pondok pengajian inilah satu-satunya pondok pengajian tanpa kelas dan tanpa bangku, sistem pendidikannya sama dengan di Patani, Kelantan, Kedah dan Pulau Jawa. Dalam tahun 1975, beberapa orang kader Pondok Pesantren Saigoniyah dan Dar al-’Ulum bergabung, sama-sama mengajar di Pondok Pesantren Al-Fathaanah di Kuala Mempawah. Oleh itu bererti kelanjutan daripada kedua-dua institusi yang tersebut, masih berjalan terus sampai sekarang. 

Kader-kader Pondok Pesantren Saigoniyah banyak mengeluarkan kader-kader yang mengajar di beberapa tempat di Kalimantan Barat tetapi sekarang hampir semuanya telah meninggal dunia. Pondok Pesantren Saigoniyah hilang atau tenggelam namanya akibat perang dunia yang kedua, tentera Jepang sangat ganas di Kalimantan Barat. 

Setelah Jepang kalah, nama itu tidak muncul lagi, nama baru yang muncul dalam tahun 1977 ialah Madrasah Al-Irsyad. Nama baru ini diberikan bertujuan mengabadikan nama Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dan nama keturunan beliau, yaitu Muhammad Arsyad. Beliau adalah satu-satunya ulama yang dihormati di Kampung Saigon ketika itu. Sementara Pondok Pesantren yang didirikan Yusuf mencetak santri-santri yang beberapa di antaranya menjadi ulama besar nusantara. Salah satu diantaranya adalah KH Mochtar Natsir, imam besar Masjid Istiqlal Jakarta.Dibeberapa tempat di Pulau Jawa Pondok Pesantren mencapai kemajuan, sebaliknya di tempat-tempat yang lain termasuk di Pontianak Kalimantan Barat, Malaysia mengalami kemerosotan, bahkan ada yang hanya dikenang namanya saja, rasanya perlulah insan-insan yang sedar dan insaf berjuang menghidupkannya kembali. Ini kerana sistem pengajian pondok ketika dulu diakui oleh ramai pihak sebagai institusi yang mencerdaskan umat Melayu sejagat. 

Dengan perkembangan dunia yang serba canggih dan moden, institusi pondok perlu canggih dan moden juga. Pondok Pesantren Saigoniyah yang satu ketika dulu pernah terkenal di Kalimantan Barat, bahkan menjadi dipuji oleh masyarakat Banjar di mana saja mereka berada, sekarang telah tiada. Kita mengharapkan pejuang-pejuang pendidikan sistem pondok dunia Melayu tetap berfikir dan berusaha ke arah sesuatu yang hilang akan ada gantinya. 

Sebagaimana kita ketahui, Muhammad Yusuf Saigon, yang berperanan dalam pembinaan Pondok Pesantren Saigoniyah, adalah salah seorang keturunan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Perlu juga kita ketahui, dalam zaman yang sama keluarga ini juga menjalankan aktivitas serupa di tempat-tempat lainnya di dunia Melayu, bahkan termasuk juga Mekah. Sebagai contoh Mufti Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari mengasaskan pengajian pondok di Parit Hidayat, Sapat, Inderagiri Hilir, Sumatera. Tuan Husein Kedah al-Banjari mengasaskan beberapa tempat pendidikan sistem pondok di Malaysia. Beliau memulakan aktivitinya di Titi Gajah, Kedah, selanjutnya di Pokok Sena, Seberang Perai, Pulau Pinang yang dikenali dengan Yayasan Pengajian Islam Madrasah Al-Khairiah. Selain institusi pendidikan di Pontianak, Kalimantan Barat, Sapat, Inderagiri dan Malaysia sebagaimana yang disebutkan di atas, masih banyak lagi institusi pendidikan keluarga ulama Banjar tersebut di tempat-tempat lain, sama ada di Banjar maupun di Pulau Jawa. 

Di Bangil, Jawa Timur ada pondok pesantren yang diasaskan keluarga ini, seperti Pesantren Datuk Kelampayan. Pondok tersebut diasaskan oleh al-`Alim al-Fadhil Kiyai Haji Muhammad Syarwani Abdan al-Banjari. Datuk Kelampayan adalah gelaran untuk Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari kerana beliau dimakamkan di Kelampayan. Di Dalampagar (Banjar) sekurang-kurangnya terdapat dua buah institusi pendidikan yang diasaskan oleh keluarga ini, demikian pula di Teluk Selong, Kampung Melayu dan lain-lain. Dua buah madrasah di Dalampagar diberi nama Madrasah Sullam Al-’Ulum dan Madrasah Mir’ah ash-Shibyan. Yang di Teluk Selong diberi nama Madrasah Sabil Ar-Rasyad. Yang di Sungai Tuan diberi nama Madrasah Al-Irsyad. Yayasan yang diasaskan oleh keluarga ulama Banjar tersebut juga terdapat di beberapa tempat, seumpama Yayasan Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Yayasan terbentuk dalam rangka haul ulama tersebut yang ke 160 kali oleh panitia (jawatan kuasa) pada 30 November 1967, hari kewafatan beliau yang jatuh pada 7 Syawal 1387 H/7 Januari 1968 M, diadakan di Kompleks Kubah Kelampayan, Kalimantan Selatan. 

Guru agama dalam keluarga ulama Banjar ini bernama Kiyai Haji Muhammad Saman bin Muhammad Saleh (lahir 3 November 1919) yang telah berhasil mengasaskan Yayasan Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Makrifatullah wa Makrifatur Rasul Nurul Islam di Banjar dan sejak tahun 1972 telah berhasil mengajar dan berdakwah di negeri Sabah. Ada beberapa orang besar dan tokoh terkemuka di Sabah yang merupakan murid beliau, di antaranya ialah Datuk Mohd Ainal bin Haji Abdul Fattah, PGDK, LLB, MBA (UMS), penyusun buku Dokumentasi Pilihan Raya Ke-11, cetakan pertama tahun 2005 yang lengkap dengan pelbagai gambar. Buku tersebut telah dilancarkan oleh Datuk Seri Abdullah Badawi, Perdana Menteri Malaysia pada hari Jumaat 22 Julai 2005 di Pusat Dagangan Dunia Putera (PWTC). 

PENULISAN Muhammad Arsyad bin Haji Muhammad Thasin al-Banjari adalah seorang ulama. Beliau juga menyebarkan Islam dengan cara berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sungguh pun beliau merantau namun sempat juga menghasilkan beberapa buah karangan. Di antaranya yang diberi judul Tajwid Fatihah. Karya beliau pula ialah Tajwid al-Quran, diselesaikan di Pontianak, hari Isnin, 8 Ramadan 1347 H. 

Cetakan pertama kedua-dua karya tersebut dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, 29 Jamadilawal 1348 H. Menurut keterangan anak beliau, Fauzi Arsyad masih ada beberapa buah karangan Muhammad Arsyad, ayahnya itu, di antaranya ialah Ilmu Ushul Fiqh. Dengan sangat disesali saya hanya memperoleh dua judul yang tersebut di atas saja, ketika saya menyusun buku Syeikh Muhd. Arsyad Al-Banjari Matahari Islam (1402 H/1982 M) beliau berjanji akan membongkar kitab-kitab yang ada dalam simpanan untuk mendapatkan semua karangan ayahnya, namun hingga beliau meninggal dunia karangan-karangan yang dimaksudkan gagal diperoleh. 

Ilmu Ushul Fiqh termasuk salah satu ilmu yang tidak banyak ditulis dalam bahasa Melayu, Prof. Dr. Hamka menulis, “Orang pertama menulis Ilmu Ushul Fiqh dalam bahasa Melayu ialah Dr. Haji Abdul Karim Amrullah yang diberinya judul Sullamul Ushul Yurqabihi Samma’u Ilmul Ushul, selesai ditulis pukul 6.30 pagi, hari Sabtu, 24 Muharam 1333 H atau 12 Disember 1914 M di Jambatan Besi, Padang Panjang.” Jika ushul fiqh karya Muhammad Arsyad bin Haji Muhammad Thasin dapat ditemui tentu kita dapat membandingkannya dengan karya ayah atau orang tua Buya Hamka itu. 

Kemungkinan karya ulama keturunan Banjar itu lebih dulu atau pun jika terkemudian rasanya dalam jarak tahun yang tidak begitu jauh. Kerana kedua-dua ulama yang berasal dari Banjar dan Minangkabau itu menjalankan aktiviti pendidikan, dakwah dan penulisan adalah dalam tahun-tahun yang bersamaan.

Sumber:
http://aladamyarrantawie.blogspot.com/
http://www.facebook.com/Kisah.Para.DatudanUlama.Kalimantan
http://www.facebook.com/Para.Pecinta.Habaib.dan.Ulama
http://chemot-marley.blogspot.com/
http://www.facebook.com/SYAFAAH.dan.BAROKAH
Baca juga :

Posting Komentar