Selamat datang dan terima kasih telah mengunjungi website kami. MUQODDIMAH

Imam Daylami Kitab Hadits Musnad Al Firdausi

Imam Daylami Kitab Hadits Musnad Al Firdausi
Imam Daylami Kitab Hadits Musnad Al Firdausi
Imam Dailami yang bernama lengkap Imam Al Hafidh Abu Syuja, Syiirawaiyh bin Syahradar Addailamiy Al Hamdzaniy rahimahullah, lahir di Ashbahan Baghdad tahun 445 H dan wafatnya 19 Rajab pada tahun 509 H, salah satu kitabnya yg terkemuka adalah Firdaus bima'tsuril khitaab, yaitu kumpulan hadits riwayat beliau. Beliau seorang Al Hafidh, yaitu hafal 100 ribu hadits dengan sanad dan hukum matannya. Putranya pun seorang Imam dan Hafidh (hafal 100 ribu hadits dg sanad dan hukum matan). Putranya bernamakan dengan nama ayahnya yaitu Syahrdaar bin Syiirawaiyh bin Syahradaar Addailamiy Al hamdzaniy rahimahullah. Musnad Al Firdausi adalah Sebuah kitab Hadits yang dikarang oleh Ad dailami.

Musnad al-Firdaus - Kitâb al-Firdaus Karya al-Dailamy

Nama Lengkap penulis buku ini adalah Abû Syujâ' Syirawaih bin Syahardâr bin Syîrawaih bin Fanâ Khasr bin Khusarkân bin Zainûnah bin Khasr bin Wardâdz bin Dailam bin al-Sibâb bin Kasykarî bin Dâjî bin Kanûsy bin Abdurrahmân bin Abdullah al-Dlahhâk (sahabat Nabi saw) bin Fairûz al-Dailamî al-Hamadzâni. Beliau dikenal sebagai seorang pakar hadis bergelar al-hâfidh yang juga pakar sejarah (muarrikh). Kepribadannya sangat bagus sehingga para kritikus hadis (ulama rijâl) menilainya sebagai seorang muhaddis yang tsiqah. Selain itu, beliau juga terkenal sebagai muhaddits yang tekun dan memiliki intensitas tinggi dan berdedikasi terhadap ilmu dan gurunya sehingga mendapat predikat tsabat.

Al-Daylami lahir pada 445 H./ 1053 M dan wafat pada 19 Rajab 509 H./ 1115 M. Namun, sayang sekali jarang sekali ulama yang mampu mengupas biografi lengkap tentang kesehariannya sebagaimana ulama-ulama lain. Biografi al-Daylami yang ada selalu diulang, bahkan dengan redaksi yang sama, di beberapa lieratur dalam beberapa halaman saja. Al-Dailamî mendapat julukan al-Kiyâ. Pengembara, berkepribadian luhur, cerdas, tidak banyak bicara, serta berprofesi sebagai asiste dosen (mu'îd) di salah satu Perguruan Tinggi di Hamadzân[2]. Namun menurut al-Dzahabi, beliau memiliki IQ standar (rata-rata), namun berwawasan luas.

Diantara Guru al-Daylami yang mernah meriwayatkan hadis secara langsung (simâ'an) adalah:

1. Abu al-Fadl Muhammad bin Utsmân al-Qaumasâni
2. Yûsuf bin Muhammad bin Yûsuf al-Mustamlî
3. Abu al-Faraj Ali bin Muhammad bin Ali al-Jarîrî al-Bajalî
4. Ahmad bin 'Îsâ bin Ubbâd al-Dainûrî
5. Abû Manshûr Abd al-Bâqî bin Ali al-'Atthâr
6. Abu al-Qâsim bin al-Busrî
7. Abû 'Amr bin Mandah
8. Sufyân bin al-Hasan bin Manjawaih
9. 'Abd al-Hamîd bin al-Hasan al-Qudla'î
10. Abû Nashr al-Zainabi

Sedangkan Murid-murid yang pernah meriwayatkan Hadis dari beliau adalah, di antaranya:

Syahardâr (anaknya sendiri)
Muhammad bin alFadl al-Isfirâyînî
Abu al-'Alâ' Ahmad bin Muhammad bin al-FAdl al-Hâfidz (al-'Atthâr)
Abû Mûsâ al-Madînî
Abû Thâhir al-Salafî
Abu al-Fath al-Thâi

Untuk mengenal sosok al-Daylami lebih dekat, perlu dibedakan antara al-Daylami al-Kabîr dengan al-Daylami al-shaghîr. al-Daylami al-Kabîr adalah al-Hâfidz Abû Syujâ' Syîrawaih yang menulis Kitab al-Firdaus ini. Sedangkan al-Daylami al-shaghîr adalah Abu manshur Syahirdar[3] (anak al-Daylami al-Kabîr) yang memberikan sanad kitab ayahnya dan menamainya Musnad al-Firdaus.

al-Daylami Sebagai Penulis

Tidak banyak ulama yang membahas tentang al-Daylami dan karya-karyanya. Keberadaan al-Daylami dianggap sudah cukup dengan adanya karya monumental yang biasa dipakai sebagai rujukan. Beberapa literatur menyebutkan bahwa karya al-Daylami ada tiga, yaitu:

1. Kitâb al-Firdaus, yang saat ini kita kaji metodologinya.
2. Târîkh Hamadzân
3. Riyâdh al-Uns Li 'Uqalâ' al-Ins fî Ma'rifat Ahâdits al-Nabî wa Târîkh al-Khulafâ' (tidak dicetak, masih berupa manuskrip)

Tampaknya, tulisan-tulisan asli al-Daylami tidak ada yang diterbitkan. Manuskrip-manuskrip yang ada mengindikasikan tulisan anaknya atau murid-muridnya yang lain. Dugaan ini diperkuat dengan penyebutan nama al-Daylami yang disertai dengan beberapa gelar kebesarannya dalam bidang Hadis. Pada bagian sampul manuskrip al-Firdaus, misalnya, tertulis: "Ini adalah Kitab Musnad al-Firdaus yang sepuluh ribu hadis Nabi saw. Karya al-Syaikh al-Imam al-'Alim al-'Allamah, Syaikh al-Muhadditsîn wa rihlat al-Thâlibîn, Abu Manshur al-Daylami, putra Syahirdar. Semoga dengan berkahnya, berkah ilmu-ilmunya, Allah menjadikan manfaat bagi kita dan segenap muslimin. Amin."

Kondisi Sosio Kultural Msyarakat Setempat dan Motovasi Penulisan

Menurut pengkuannya di awal mukadimah, al-Daylami menulis al-Firdaus ini adalah karena tuntutan kondisi sosial kemasyarakatan tempat al-Daylami tinggal yang kian tidak peduli terhadap hadis dan sanadnya. Di samping itu, al-Dylami juga resah melihat kondisi masyarakatnya yang tidak mampu membedakan antara hadis yang sahih dan yang cacat, serta meninggalkan kitab-kitab yang telah disusun oleh para ulama sebelumnya. Kondisi ini diperparah lagi dengan keengganan masyarakat untuk memperhatikan hal-hal yang fardhu dan sunnah, yang halal dan haram, adab dan wasiat, teladan dan nasihat, bahkan mereka lebih suka pada cerita (dongeng) dan hadis-hadis yang tak bersanad yang perawinya sendiri pun tidak tahu dari mana sumbernya. Mereka lebih senang membicarakan hadis-hadis yang tidak terdeteksi oleh ahli hadis, terutama hadis-hadis palsu buatan tukang dongeng. Selain itu mereka juga lebih memilih nongkrong di jalanan (al-majâlis bi al-thuruqât) daripada nongkrong di majelis-majelis ilmiah.[4]

Dari latar belakang tersebut tampak bahwa al-Daylami merupakan sosok alim yang sangat peduli terhadap kehidupan masyarakatnya. Hal ini juga menunjukkan bahw al-Daylami adalah sosok figur yang bertanggung jawab dan senantiasa konsisten menjalankan sunnah-sunnah Nabi sebgaimana laiknya ulama hadis.

Berdasarkan keterangan yang menyatakan bahwa masyarakat setempat lebih suka mengambil hadis-hadis yang dibuang sanadnya sebagaimana disebut di atas, tampaknya al-Daylami sangat merespon ketertarikan mereka tersebut dengan menyusun kitab hadis yang juga dibuang sanadnya. Di samping itu, kebanyakan riwayat yang terkandung dalam kitab ini pun terkesan bernada cerita, namun banyak mengandung nilai-nilai sunnah, adab, nasihat, al-amtsâl, al-fadhâil, siksa dia akhirat, dll. dan bukan berisi tentang hadis-hadis hukum, sejarah atau peperangan sebagaimana kebanyakan kitab hadis.

Bisa jadi, hal ini dilakukan agar dapat menarik perhatian masyarakat setempat. Meski demikian, tentu hal ini dilakukan setelah melakukan filterisasi yang ketat dan tidak ceroboh.

Deskripsi Umum al-Firdaus

Judul kitab ini secara lengkap adalah sebagaimana disebut di atas, hanya saja ada sedikit perbedaan mengenai kata al-Akhbâr. Dalam beberapa manuskrip disebut Kitâb Firdaus al-Akhyâr (dengan memakai ya) bi Ma'tsûr al-Khithâb al-Mukharraj 'alâ kitâb al-Syihâb fi al-Hadîts (karya al-Imam al-Muhaddits al-Qudlâ'i)[5]. Ada juga yang menyebut kitab ini dengan judul Firdaus al-Barrîn) seperti pada manuskrip di Brockelman, Berlin 1278; Kairo I 1/135, dan Kairo II 2/ 135 Sulaim Âgha 228 Jarullah 292-294 Brush Ulu Jâmi' al-Hadis 188 Âshfiyah (1/654: 14 Ramnyul I 102: 208. Menurut al-Zirekcley, judul yang benar, sesuai dengan yang ia lihat dalam sebuah manuskrip adalah al-Firdaus bi Ma'tsûr al-Khithâb.

Kitab ini memuat sekitar 10.000 buah hadis pendek yang dibuang sanadnya, kemudian ditakhrij oleh puteranya dan ditulis secara urut berdasarkan huruf mu'jam. Adapun jumlah huruf yang dipakai sebagai standar urutan tersebut adalah 20 huruf. Huruf-huruf tersebut merupakan rumus-rumus yang biasa dipakai dalam beberapa kitab Hadis. Huruf-huruf tersebut, berdasarkan pernyataan muhaqqiq- disebutkan di samping setiap hadis. Sistematika penulisan seperti ini juga banyak diikuti oleh para ulama Hadis yang di antaranya adalah al-Imam al-Suyuthi.[6]

Banyak orang salah faham mengenai kitab ini. Seringkali ketika disebutkan al-Daylami, maka yang dimaksud adalah Abu Syuja' (ayah: al-Kabir). Tetapi, ketika disebut kitab al-Daylami, maka yang dimaksud adalah musnad al-Firdaus. Padahal Musnad adalah karya al-Daylami junior (Abu Manshur). Padahal Musnad al-Firdaus, menurut keterangan berbagai sumber, belum dicetak hingga saat ini.

Kesalahanpahaman seperti ini sangatlah wajar karena pada mukadimah kitab ini juga terjadi kerancuan. Di awal mukadimah kitab ini disebutkan bahwa ini adalah kitab "Musnad" al-Firdaus karya Abu Manshur al-Daylami, padahal sebenarnya adalah al-Firdaus karya ayahnya. Berikut adalah kutipan redaksinya:
هذا كتاب [مسند] الفردوس لأبي منصور الديلمي. [شهردار بن شيرويه] وقال الشيخ الإمام الحافظ: أبو شجاع شيرويه بن شهردار الهمذاني رضي الله عنه:

إن أحسن ما نظق به الناطقون، أو تفوه به الصادقون ووله به الواثقون حمد الله عز وجل والثناء عليه بما هو عليه. للخبر الوارد عن النبي صلى الله عليه وسلم: .....

"Ini adalah kitab "Musnad" al-Firdaus karya Abu Manshur al-Daylami (Syahirdar bin Syirawaih). Al-Syakh al-Imam al-Hafidz Abu Syuja' Syirawaih bin Syahirdar al-Hamadzani ra. berkata: "Sesungguhnya ungkapan terbaik yang keluar dari mulut seorang yang jujur adalah pujian kepada Allah, karena ada hadis dari Rasul saw. yang menjelaskan tentang hal ini:...."[7]

Nama Musnad al-Firdaus yang merupakan karya Abu Manshur ini, bukan berarti kitab Hadis yang sistematika penulisannya memakai nama sahabat sebagai standar klasifikasi hadis yang ada di dalamnya. Melainkan kata musnad di sini berarti yang dilengkapi dengan sanad.

Meski menamainya dengan musnad, Abu Manshur tidak menyebutkan sanadnya secara langsung. Ia hanya menakhrij hadis-hadis riwayat ayahnya dan memberikan tambahan riwayatnya sendiri. Dalam menakhrij pun, Abu Manshur hanya menyebutkan sumber dan halaman, tanpa menyebutkan redaksi matannya.

Hal ini membuat kita, sebagai peneliti, sulit untuk menentukan kualitas hadis-hadis riwayat al-Daylami.

Menurut pengakuan al-daylami, kitab ini memuat hadis-hadis sahih, gharîb, afrâd, dan suhuf-suhuf[8] yang diriwayatkan dari Nabi, seperti suhufnya Ali bin Musa al-Ridha, 'amr bin Syu'aib, Bahz bin Hakim, Abban bin Abu 'Ayyasy, Humaid al-Thawil, dan riwayat-riwayat lain yang pernah beliau dengar dari para gurunya, baik saat dalam perantauan maupun saat menetap. Hadis-hadis yang termuat dalam al-Firdaus ini, menurut para ulama, banyak yang dha'if dan bahkan maudhu'.

Al-Daylami juga mengaku bahwa setiap kali hendak menulis hadis dalam kitab ini, beliau selalu membaca basmalah dan minta pertolongan kepada Allah (al-isti'ânah).

Kondisi Manuskrip Kitab al-Firdaus

Dalam proses pengeditan kitab ini, pentahqiq berpegang pda beberapa manuskrip sebagai berikut:

1. Manuskrip "al-Firdaus" karya Abu Syuja'

Manuskrip ini ditemukan di Perpustakaan al-Azhariyyah dengan nomor 326. manuskrip ini terdiri dari 366 lembar biasa dan pada halaman pertama tertulis:
((هذا مسند الفردوس يشتمل على عشرة آلاف حديث من أحاديث النبي صلى الله عليه وسلم. تأليف الشيخ الإمام العالم العلامة، شيخ المحدثين ورحلة الطالبين، أبو منصور الديلمي ابن شهردار، نفعنا الله ببركاته وبركات علومه، والمسلمين أجمعين آمين))

"Ini adalah Musnad al-Firdaus yang mengandung 10.000 hadis Nabi saw. Disusun oleh Al-Syakh al-Imam al-'Alim al-'Allamah, Syikh al-Muhadditsin wa rihlat al-Thalibin, Abu Mnshur al-Daylami bin Syahirdar."

Sedangkan pada bagian pinggirnya (hawâsyî) tertulis:
((كتاب مجموع فيه الكتب الستة وغيرها من كتب أصول الإسلام))، نمرة خصوصية (326) ونمرة عمومية (3009) حديث ....))

((أوقف هذا الكتاب الأمير بكير جلبي، لوجه الله على طلبة العلم بمدينة منفلوط وقفا صحيحا شرعيا)).

Sedangkan pada halaman terakhir tertulis:
((والحمد لله رب العالمين، وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه أجمعين، وكان الفراغ منه يوم الخميس ثامن عشر من شهر جمادى الأول سنة اثني عشر وسبعمائة. وتم هذا الكتاب صبحية (صبيحة) يوم الخميس سنة 1175 [هـ] والحمد لله وحده. ولا حول ولاقوة إلا بالله.

Ada beberapa kejanggalan dalam catatan tersebut di atas, yaitu: pertama, penisbatan kitab kepada al-Daylami al-shghir(Abu Manshur) bukan kepada abu Syuja' (al-Daylami al-Kabir). Jika kita perhtikan isi kitab ini, maka yang pernyataan catatan tersebut tidak tepat, karena kitab ini lebih cenderung mengindikasikan karya Abu Syuja'. Sedangkan Abu Mnshur al-Daylami (sang anak) hanya menakhrij dan menmabahkan hadis-hadis riwayat ayahnya, kemudian menamainya dengan "Musnad al-Firdaus". Karenanya, Musnad al-Firdaus harus berisi hadis-hadis yang disertai dengan sanad, kecuali jika ada bukti atau keterangan bahwa ada salah seorang ulama yang sengaja membuang sanad seluruh hadis yang ada dalam kitab ini. Namun, tidak demikian adanya. Bahkan menurut keterangan yang masyhur adalah bahwa Abu Syuja' al-Daylami lah yang menulis buku ini. Jadi, bisa dipastikan bahwa kitab ini adalah karya Abu Syuja' al-Dylami (sang ayah), namun boleh juga disebut bahwa ini adalah karya sang ayah yang diriwayatkan oleh sang anak dengan tanpa ditakhrij. Kemungkinan sangat rasional, mengingat di depan juga disebutkan pernyataan Abu Manshur dalam mukadimahnya, " Al-Syakh al-Imam al-Hafidz Abu Syuja' Syirawaih bin Syahirdar al-Hamadzani berkata:..."

Kejanggalan ke dua adalah mengenai pernyataan bahwa jumlah hadis yang disebutkan di dalam mukadimah kitab ini adalah sekitar 10.000 hadis, namun pada kenyataannya, nomor hadis hanya berakhir pada angka 8.562. Padahal berdasarkan pembacaan kami, tak ada satupun hadis yang ditulis tanpa nomor, sehingga jumlah hadis yang hilang mencapai sekitar 1.438 buah.

Ketiga, pada halaman terakhir manuskrip tertulis bahwa kitab ini selesai ditulis pada Kamis, 18 Jumadilawal 712 H, dan selesai disalin pada Kamis pagi, 1175 H. Jika memang betul bahwa ini adalah manuskrip al-Daylami (baik senior ataupun junior) atau murid-muridnya, tentu tahun-tahun tersebut menjadi tidak rasional, karena al-Daylami wafat pada 509 H. Sedangkan al-Daylami junior pun wafat pada tahun 558 H./ 1163 M. Jadi, selisih tahun peneyelesaian penulisan dengan tahun wafat al-Daylami adalah lebih dari satu setengah abad. Karenanya, kami menyimpulkan bahw naskah tersebut bukan tulisan asli al-Daylami atau murid-muridnya, melainkan naskah salinan.

Di samping terdapat beberapa kejanggalan, menurut keterangan muhaqqiq, kondisi manuskrip ini juga sangat buruk. Untuk mengetahui sejauh mana kondisinya, berikut kami paparkan beberapa cacatnya:

a. Cacat pada tulisannya. Selain susah dibaca, font (khat) nya pun sangat jelek. Di samping itu juga banyak terjadi tashhîf (perubahan titik pada huruf)

b. Cacat pada penyalin (penukil) nya. Tampaknya penguasaan penyalin naskah ini terhadap Hadis sangat lemah, karena banyk sekali terdapat kesalahan gramatika dalam penulisannya. Selain itu juga banyak ditemukan penempatan hadis yang tidak konsisten terhadap metode yang telah ia paparkan.

c. Ada beberapa bagian naskah yang kurang atau hilang. Banyak sekali hadis-hadis yang hilang karena kecerobohan penyalin yang mencampur hadis-hadis pada kelompok huruf 'ain dan kelompok huruf qaf. Barangkali inilah yang menyebabkan jumlah hadisny tidak mencapai 10.000 buah. Kekurangan tersebut dimulai setelah hadis:
((العلم خير من العمل وملاك الدين الورع وإن العالم من يعمل بالعلم وإن كان قليلا))
"Ilmu itu lebih baik daripada beramal. Para pemilik agama adalah orng-orang yang wara'. Sedangkan seorang alim adalah yang beramal (berbuat) dengan ilmunya meskipun hanya sedikit."

Hingga permulaan hadis Aisyah:
((قال أخي داود: اعفروا وجهي بالتراب ...))
"Sudaraku, Daud berkat, 'Lumurilah mukaku dengan debu....'."

Kekurangan-kekurangan ini dpat dicari dalam manuskrip Tasdîd al-Qaws dan Musnad al-Firdaus, serta al-Durr al-Multaqith (Ibnu Hajar).

Hasilnya, setelah dibandingkan dengan Musnad dan Tasdid al-Qaus ternyata terdapat banyak sekali tambahan Abu Mansur yang tidak ada dalam manuskrip asli kitab al-Firdaus karya ayahnya. Karena memang sejak awal juga telah disebutkan bahw selain menakhrij, Abu Manshur juga menambahkan hadis riwayatnya sendiri. Setelah dihitung, jumlah hadis tambahannya mencapai sekitar lima ribu hadis, sehingga jumlah total hadis yang ada dalam Musnad mencapai 17.000 hadis. Hal ini karena menurut Ibnu Hajar, al-Firdaus memuat 12.000 hadis, bukan 10.000 hadis.

d. Adanya kekaburan usia manuskrip. Menurut keterngan penyalin, naskah ini baru selesai disalin pada 1175 H atau sekitar tujuh abad setelah meninggalnya penulis.

2. Manuskrip Tasdîd al-Qaws karya Ibnu Hajar al-'Asqalâni

Manuskrip ini dapat ditemukan di Dar al-Kutub al-Mishriyyah, dan dikopi di Ma'had al-Makhthûthât al-'Arabiyyah Kairo. Pada halaman pertama manuskrip ini tertulis:
((النصف الأوّل من تلخيص مسند الفردوس. للفقير إلى الله تعالى [أحمد] بن حجر الشافعي [غفر الله له]))
"ini adalah paruh pertama ringkasan Musnad al-Firdaus. Disusun oleh al-Faqir Ahmad bin Hajar al-Syafi'i."

Kondisi naskah ini masih lebih bagus daripada naskah al-Firdaus. Font (khath) yang dipakai pun font standar yang berlaku saat itu, namun juga terdapat tashhîf seperti naskah pertama. Meski demikian, naskah ini masih dapat terbaca dengan mudah.

3. Manuskrip Musnad al-Firdaus

Ada dua manuskrip Musnad al-Firdaus. Yang pertama terdiri dari 195 lembar, yang kemudian menjadi juz 2 Musnad al-Firdaus. Naskah ini dapat dijumpai di Perpustakaan Jârullah dengan nomor 415. Kondisi naskah ini masih cukup baik, namun juga terdpat keslahan di dalamnya. Pada naskah ini tertulis bahwa penyusun Musnad al-Firdaus adalah Syirawaih (sang ayah) dan tahun penyalinannya pada abad ke-9 H. Jenis Font yang dipakai mirip dengan font yang dipakai oleh Ibnu Hajar, hanya saja sangat jelek dan susah dibaca. Naskah ini dimulai dari huruf Sin dan berakhir pad huruf Qaf.

Masnuskrip ke dua merupakan slinan dari nskah yang ada di Maktabah (ed: tidak jelas apa nama perpustakaannya) dengan nomor 648 dan terdiri dari 243 lembar besar. Naskah ini mencakup juz 3 Musnad al-Firdaus yang dimulai dari huruf Qaf , bab ((قد كان)) .....)) dan ditutup dengan hadis: ((المؤمن في قبره ...)).

Naskah ini selesai disalin pada 613 H dengan menggunakan font yang sangat indah, jelas, mudaah dibaca, berharakat, dan dilengkapi dengan beberapa penafsiran kosakata.

Proses Editting

Dalam upayanya menkonversi naskah asli menjadi sebuah buku yang mudah dibaca, pentahqiq menggunakan metode dn langkah sebagaimana berikut:

1. Menemukan cacat yang terdapat dalam masing-masing naskah,

2. Membandingkan naskah primer dengan naskah-naskah sekunder untuk menutupi cacat yang ada pada masing-masing naskah.

3. Dalam men-ta'lîq (memerikan catatan kaki) hadis, Muhaqqiq lebih dulu menyebutkan hasil penelusuran riwayatnya Ibnu Hjar dalam Tasdîd al-Qaws.

4. Selain mengedit, penahqiq juga menjelaskan beberapa kosakata yang masih dianggap asing dan sulit dipahami.

5. Mengenai Hadis yang tidak ditemukan sumber rujukannya dianggap dhaif atau Mudhû'.

Tata Letak (Layout) Kitab

Dalam mukadimah pada juz pertama, al-Daylami menyatakan bahwa dalam seiap hadis selalu diawali dengan basmalah dan isti'ânah (wa bihî nasta'în), namun kenyataannya tidak demikian. Tak satupun hadis diiringi dengan lafal basmalah dan isti'ânah. Hanya permulaan bab pertama saja yang terdapat lafal tersebut, 'bismillâhirrahmânirrahîm dan wabillâh al-tawfîq.

Berdasarkan hasil pembacaan kami, terdapat beberapa hal yang unik dalam sistematika penulisan kitab ini. Pertma, lafal basmalah ditulis sebagai pembuka untuk lima bab yang masing-masing tersebar dalam lima jilid. Berbeda dengan keempat jilid sebelumnya, penulisan basmalah pada jilid lima (terakhir) justru bukan pada bab pertama dalam jilid tersebut, melainkan pada bab ke tiga, yaitu bâb harf al-waw.

Deskripsi fisis kitab ini terdiri dari lima jilid. Pada jilid pertama hanya memuat Bâb al-Alif, sedangkan jilid dua berisi tiga belas bab, yaitu bâb al-Bâ' hingga Bab al-Shâd. Selanjutnya, jilid ke tiga terdiri dari sembilan bab yang dimulai denan Bâb al-Dlâd dan diakhiri dengan Bâb al-Lâm. Kemudian pada jilid berikutnya hanya terdapat satu bab yaitu Bâb al-Mîm. Sedangkan pada jilid terakhir terdapat lima bab, yaitu Bâb hasrf al-Nûn, Bâb harf al-Hâ, Bâb Harf al-waw, Bâb al-Lâm alif, dan Bâb harf al-Yâ. Dengan demikian al-Daylami mengklasifikasikan hadis-hadis riwayatnya ke dalam 29 bab sesuai dengan urutan huruf hijâ'iyyah.

Sebagaimana yang tertulis dalam sampul, buku cetakan pertama yang diterbitkan oleh Darul Kitab al-'Arabi ini mengandung tiga buah judul. Buku pertama –yaitu buku inti- adalah kitab Kitâb Firdaus al-Akhbâr. Kemudian di bagian footnote terdapat dua judul buku yang tercampur, yaitu Musnad al-Firdaus[9] karya Abu ansur (al-Daylami junior), dan Tasdîd al-Qaws,[10] karya Ibnu Hajar al-'Asqalani.

Untuk membedakan kedua buku tersebut, muhaqqiq memberikan tanda huruf ta dan qaf "ت ق" untuk Tasdîd al-Qaws. Adapun jika tidak diawali dengn tanda apapun, berarti Musnad al-Firdaus karya Abu Mansur. Sedangkan bila terdapat huruf zay "ز" berarti menunjukkan riwayat tambahan (ziyâdah) dari Abu Mansur yang ada dalam Musnad al-Firdaus.

Format penulisan hadis dalam buku ini diawali dengan penyebutan nama rawi pertama (sahabat) yang ditulis dengan huruf tebal –meskipun juga banyak yang tidak disebutkan rawinya sama sekali. Di depan nama sahabat selalu terdapat nomor urut yang dimulai dari angka satu (1) hingga 8.562. sedangkan hadis-hadisnya ditulis tepat di bawah nama sahabat. Jika terdapat penjelasan kosa kata dari muhaqqiq, maka ditulis pada paragraf berikutnya. Berikut adalah contoh layout al-Firdaus:
[8562] أبو هريرة :

اليمين على نية المستحلف

Sedagkan yang sama sekali tidak terdapat nama rawinya, maka teks hadis ditulis secara langsung bersama nomor urut, sebagaimana berikut:
[37] أول من يختصم من هذه الأمة بين يدي الرب تعالى : علي ومعاوية

Dengan format seperti di atas, kerapian tata letak (layout) buku ini tetap terjaga. Setiap pembaca juga langsug dapat mengetahui siapa rawinya dan dapat dengan mudah menemukan redaksi hadis cukup dengan mengetahui awal matannya saja (baca: dengan menggunakan metode athrâf).

Di dalam kitab hadis ini juga terdapat beberapa penjelasan kosa kata yang dianggap asing. Penjelasan kosakata tersebut ditempatkan pad paragraf tersendiri setelah penyebutan matn. Penempatan seperti adalah dalam rangka menghindari terjadinya idrâj. Berikut adalah contohnya:
[26] علي بن أبي طالب

أول ما تأخذه النار من أمتي : موضع خاتمهم وسرتهم .

يعني : لا يبلى عند الوضوء والغسل.

Penilaian Para Ulama Terhadap al-Daylami dan Kitab al-Firdaus

Metodologi dan Sistematika Penulisan

Buku ini (al-Firdaus) ditulis dengan menggunakan metode yang dipakai oleh al-Qudhâ'î[11] dalam Kitâb al-Syihâb. Hanya saja, al-Qudhâ'î hanya menyebutkan 1.200 hadis saja.

Tampaknya Al-Daylami memang sengaja membuang seluruh sanad hadis yang ada dalam kitab ini. Hal ini -barangkali- dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat setempat yang begitu memprihatinkan. Mengingat budaya saat itu adalah budaya anti hadis –apalagi sanad- maka al-Dailami berinisitif untuk membuang seluruh sanad agar dapat menarik perhatian masyarakat lokal. Selain itu, hadis-hadis yang dimasukkan dalam buku ini adalah hadis-hadis pendek saja dan bukan –bahkan tidak ada sama sekali- hadis-hadis yang panjang (al-Ahâdits al-Thiwâl). Ini juga dilakukan agar masyarakat tidak mudah bosan membaca hadis tersebut.

Seluruh Hadis yang ada dalam kitab ini adalah mu'allaq, karena sanadnya tidak disebutkan mulai awal hingga akhir, kecuali rawi pertama (sahabat). Bahkan, banyak juga kita temui hadis yang tidak disebutkan sahabatnya. Dengan demikian, sangat sulit untuk memastikan apakah suatu hadis itu marfû', mawqûf, maqthû' atau bahkan mawdhû'. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya keterngan mengenai kualitas hadis tersebut.

Hadis-hadis yang termuat dalam kitab ini tersusun sistematis sesuai dengan urutan huruf hija'iyyah (alfabetis hija'i). susunan alfabetis ini bukan hanya pada matannya saja, namun pada seluruh komponen yang ada dalam kitab ini, baik penamaan bab, fasal, dan awal matan hadis.

Al-daylami mengelompokkan hadis-hadisnya menjadi 29 bab huruf hijaiyah. Masing-masing bab mengandung beberapa fasal yang juga diurutkan berdasarkan huruf hijaiyah. Pada masing-masing fasal terkandung beberapa hadis yang disusun urut berdasarkan awal matan.

Tidak standar khusus dalam pengklasifikasian hadis kedalam beberapa fasal. Hanya saja menurut keterangan al-Daylami bahwa dalam satu fasal terdiri dari hadis-hadis yang berawalan sama (mutaqâribat al-alfâdz). Namun, kenyataannya pun tidak demikian. Banyak sekali hadis-hadis yang tidak memiliki kemiripan awal matan tergabung dalam saatu faasal, misalnya pada fasal "al-'ain" (فصل : العين). Empat hadis pertama dalam fasal tersebut sesuai dengan judul fasalnya, yaitu diawli dengan kata al'ainu. Namun, pada hadis-hadis berikutnya diawali dengan kata lain:
أبو أمامة :

العارية مؤداة والمنيحة مردودة والدين مقتضي والزعيم غارم

Demikian juga pada hadis-hadis berikutnya yang masih dalam satu fasal.

Al-Daylami juga membuat beberapa fasal yang berjudul "al-Mutafarriqât" atau "Fashl Fî Ma'ânin Syattâ" yang menunjukkan adanya pembahasan tematik dalam fasal lain. Namun, kenyataannya tidak demikian.

Di sinilah letak keunikan metodologi kitab ini, yaitu dapat memadukan metode athraf dan tematik (mawdhû'i). Misalnya dalam bab al-'ain, terdapat beberapa fasal yang membahas satu tema khusus, namun tetap menjaga konsistensi metode athrâf-nya. Ada fasal tentang peribadatan (Fashl fi al-Ta'abbud), perkawinan (Fshl fi al-Tazwîj wa Ghairihi), farmasi atau medika (Fashl fi al-Adwiyah wa Ghairihi), Makanan (Fashl fi al-Ma'kûli Minhâ), Hikmah Penyakit (Fashl Ajr al-Marîdl), Ulama (Fashl al-'Ulamâ'), Fashl al-'Âlim, dan Fashl al-'Ain.

Selain itu, al-Daylami juga membuat kelompok hadis khusus dalam masing-masing bab yang berisi hadis-hadis berawaalan "al" atau biasa dibahasakan dengan Fshl al-Muhallâ bi Al, atau Fashl Min Adawât al-Alif wa al-Lâm, atau Dzikr al-Fushûl Min Adawât al-Alif wa al-Lâm.

Ihwal Keistimewan dan Kekurangan al-Firdaus

Dalam uraian di atas, telah dijelaskan dengan rinci mengenai kondisi umum dan beberapa permasalahan seputar kitab al-Firdaus ini. Disebutkan di muka bahwa buku ini masih mengandung banyak sekali kekurangan yang diantara sebabnya adalah kondisi manuskrip yang cukup tua dan mengandung banyak cacat. Namun, kekurangan-kekurangan tersebut dapat disempurnakan dengan dua sumber sekunder milik anaknya daan Ibnu Hajar. Meski demikian, tidak semua kekurangan dapat terpenuhi.

Ada sebuah pernyataan yang janggal dalam mukadimah kitab ini. Jika, dilihat dari penyusunnya, maka jelas dia adalah Abu Syuja' al-Daylami. Namun jika dilihat dari isinya, ungkapan tersebut adalah keluar dari anaknya. Ungkapan tersebut adalah:
وخرجتها على كتاب: أبي عبد الله محمد بن سلامة بن جعفر بن علي القضاعي المصري. إلا أنه رحمه الله ذكر ألف كلمة ومائتين ولم يذكر رواتها وذكرت أنا في كتابي هذا بعون الله وقوته [اتخذنا؟] بالتمام ليشتغل بها كل معرض عن الحديث ومشتغل [بالأشياء لا شئ]؟.

"dan saya meriwayatkan hadis-hadis tersebut dengan mengikuti metode kitab yang ditulis oleh Abu Abdillah Muhammad bin Salâmah bin Ja'far bin 'Ali al-Qudhâ'î al-Mishri. Hanya saja beliau menyebutkan 1200 hadis dan tidak menyebutkan rawi-rawinya. Sedangkan saya menyebutkan(nya) dalam kitab ini –atas pertolongan Allah- secara keseluruhan agar setiap orang yang berpaling dari hadis mau mengkajinya"

Meski banyak kekurangan, buku ini memiliki banyak sekali kelebihan yang di antaranya adalah susunannya yang menggunakan metode alfabetis hijai sehingga memudahkan pencarian hadis.

Di samping itu, ada beberapa keitimewaan khusus yang hanya bisa dirasakan melalui dzauq salîm sebagaimana yang diungkapkan al-Daylami di akhir mukadimahnya. Al-Daylami menyebutkan bahwa bagi siapa saja yang menekuni dan meneliti kitab ini, niscaya akan mendapatkan berbagai informasi (fawâid) penting yang tidak ditemukan dalam kitab-kitab lain. Bahkan kitab ini juga bisa dipakai sebagai teman curhat kala dirundung masalah, khususnya ketika menghadapi masyarakat yang serupa dengan masyarakat al-Daylami.

Pengaruhnya terhadap Kajian Hadis di Indonesia

Al-Daylami memiliki yang harum di kalangan ulama Hadis dunia, khususnya di Indonesia. Meski masih sangat jarang –jika tidak boleh disebut tidak ada- yang mengkaji kepribadian dan karya-karyanya, namun hadis-hadis riwayatnya banyak sekali dipakai sebagai argumen dalam menyelesaikan beberapa permasalahan keagamaan. Bahkan kitab ini juga biasa dijadikan sebagai "alternatif" bagi para ulama ketika tidak menemukan referensi lain.

Di Indonesia sendiri, seringkali kita jumpai berbagai literatur menyebutkan "Hadis Riwayat al-Daylami dalam Musnad al-Firdaus". Sebenarnya, pernyataan tersebut tidak tepat jika al-Daylami yang dimaksud adalah al-Daylami sang ayah, sebagaimana konsensus ulama hadis yang menyatakan jika disebutkan nama al-Daylami, maka yang dimaksud adalah sang ayah. Sedangkan Musnad al-Firdaus tersebut adalah karya anaknya. Padahal, menurut berbagai sumber, Musnad al-Firdaus sampai saat ini belum dicetak.
Pengalaman adalah Guru Terbaik. Oleh sebab itu, kita pasti bisa kalau kita terbiasa. Bukan karena kita luar biasa. Setinggi apa belajar kita, tidahlah menjadi jaminan kepuasan jiwa, yang paling utam…

Posting Komentar