Selamat datang dan terima kasih telah mengunjungi website kami. MUQODDIMAH

Yusuf al-Mizzi Ulama Hadits Sunni dari Syam

Yusuf al-Mizzi Ulama Hadits Sunni dari Syam
Yusuf al-Mizzi Ulama Hadits Sunni dari Syam

Yusuf al-Mizzi yaitu Al-Hafizh Abu al-Hajjaj Jamaluddin Yusuf bin Abdurrahman al-Mizzi (Arab: يوسف بن عبدالرحمن المزي) ialah seorang ulama sunni dari Syam, di wilayah Suriah saat ini. Ia lahir di kota Al-Mazzah kemudian besar dan menetap di Damaskus. Ia wafat pada tahun 1342 M di "Darul Hadits Al-Asyrafiyyah" di Damaskus. Al Mizzi adalah seorang ulama rijal yang mengambil mazhab Salaf dalam Aqidah. Pilihan Inilah yang membuatnya harus berhadapan dengan ulama sekelilingnya yang berpemahaman Takwil serta memusuhi sahabatnya-ibnu Taimiyah-.

Karya Ilmiah

Tahdzib al-Kamal fi Asma' ar-Rijal: sebuah karya penelitian ulang dari kitab koleksi biografi para perawi hadits yang berjudul Al-Kamal fi Asma' al-Rijal.
Tuhfah al-Asyraf: sebuah kitab indeks dari hadis-hadis yang termuat di dalam Enam kitab hadits rujukan, diurutkan berdasar "taraf", atau awal bagian dari hadis-hadis tersebut.

Al hafidz Al Mizzi yang namanya tersohor dalam dunia hadits lewat dua kitab tebalnya Yang berjudul Tahzibul Kamal dan Tuhfatul Asyraf bima’rifatil Athraf merupakan murid sekaligus teman dekat Ibnu Taimiyah dalam belajar hadits sebagaimana yang ceritakan oleh Az Zahabi dalam biografi al Mizzi dalam Tazkiratul Huffaz. Kecintaan Al Mizzi terhadap Ibnu Taimiyah terlihat ketika ia dengan penuh kasih sayang memandikan Jenazah guru dan sahabatnya tersebut lalu mengantarkannya menuju pusaranya.

Pembelaan Ibnu Taimiyah - Diceritakan dalam biografi Al Mizzi dan Juga Ibnu Taimiyah tentang Cobaan yang dihadapi Oleh Al Mizzi yang menyebarkan dakwah Salaf dalam Aqidah dengan mengajarkan Kitab Khalqu Afa’lil ibad milik Amirul Mu’minin Fil Hadits Al Imam Al Bukhari Rahimahullah. Berikut penuturan Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah Wa an-Nihayah pada peristiwa yang terjadi sekitar tahun 705 Hijriah terkait Dengan ibnu Taimiyah :

Ada sekolompok fuqaha yang mendengki Ibnu Taimiyah karena kedudukan tingginya dalam kenegaraan dan tindak-tanduknya yang sendirian menyeru kepada kebaikan dan melarang kemungkaran serta ketaatan dan cinta manusia kepadanya. Ditambah lagi dengan banyaknya pengikut, ilmu, dan amal baik. Terjadilah beberapa ketegangan di Damaskus sehubungan dengan absennya pejabat perwakilan sulthan. Sekelompok orang meminta Qadhi untuk mengadili Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya serta menahan sebagian dari mereka.

Disaat yang sama, al hafidz Al Mizzi membaca sebuah pasal tentang bantahan terhadap Jahmiyah dari kitab [Khalqu] Af’alil Ibad milik Imam Bukhari dibawah Qubah Nashr (masjid Umawi,pent). Setelah membaca janji Imam bukhari yang disebabkan Oleh istisqa’ maka marahlah beberapa hadirin lalu mengadukannya kepada Qadhi Syafii Ibnu Shasra yang merupakan Musuh syaikh [ibnu Taimiyah]. Maka ditahanlah Al Mizzi. Berita tersebut sampai kepada Syaikh Taqiyuddin [Ibnu Taimiyah]. Berita tersebut menyeakiti perasaan beliau dan beliau langsung bergegas menuju penjara dan membebaskannya.

Ibnu Taimiyah kemudian pergi menuju Istana dan bertemu dengan dengan Qadhi [Shasra] disana. Mereka kemudian berdebat terkait dengan syaikh Jamaluddi Al Mizzi. Ibnu Shasra bersumpah untuk kembali memenjarakan Al Mizzi atau ia mengundurkan diri sebagai Qadhi. [kabar sampai ke Mesir] Demi mendengar sumpah itu, maka pejabat perwakilan Sulthan memerintahkan untuk kembali memenjarakan al Mizzi untuk menyenangkan hati Qadhi [Ibnu Shasra] di kota Qusay [Mesir] selama beberapa hari kemudian melepaskannya kemballi.

Ketika pejabat perwakilan kesulthanan kembali ke Damaskus, Ibnu Taimiyah menceritakan kepadanya tentang hal yang terjadi kepadanya dan murid-muridnya ketika dia tidak ada. Pejabat tersebut sangat sakit hati kemudian mengumumkan di Damaskus bahwa tidak boleh seorangpun berdebat seputar Aqidah. Siapapun yang melakukannya maka halal harta dan darahnya serta rumah dan tokonya akan diratakan dengan tanah. Setelah itu keadaan menjadi tenang.
Pengalaman adalah Guru Terbaik. Oleh sebab itu, kita pasti bisa kalau kita terbiasa. Bukan karena kita luar biasa. Setinggi apa belajar kita, tidahlah menjadi jaminan kepuasan jiwa, yang paling utam…

Posting Komentar