Selamat datang dan terima kasih telah mengunjungi website kami. MUQODDIMAH

Mankobah Syeh Abdul Qodir Al Jailani

Manaqib Syekh Abdul Qodir Al Jailani
Manaqib Syekh Abdul Qodir Al Jailani

اَعُوْذُبِا اللهِ مِن الشَّيْطَانِ الّرَجِيْمِ
أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ
بِسْمِ اللهِ الّرَحْمٰنِ الّرَحِيْمِ
اَلحَمْدُ ِللهِ رَِبّ الْعَلََمِِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَِ إِلاَّ عَلَى الّظا لِمّيِْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عٰلَى سَيْدِنَا مُحَمَّدٍِ وَعَلىٰ اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ أَمّاَ بَعْدُ

A'udhu Billaahi Minasy Syaitoonir Rojiim
Alaa Inna Auliyaa Allohi Laa Khoufun ‘Alaihim Wa Laahum Yahzanun
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Alhamdu Lillahi Robbil ’Alamin, Wal ‘Aqibatu Lilmuttakin Wala ‘Udwana Ila ‘Aladh Dholimin, Wash Sholatu Was Salaamu ‘Ala Sayidinaa Muhammadin Wa ’Ala Alihii Wasohbihi Ajma’in, Ama Ba’du.
Dengan nama Alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang. Puji bagi Alloh pencipta semesta alam. Sholawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjunan kita Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasalam beserta keluarganya, shabatnya, serta auliya Alloh dan para pengikut beliau dari dahulu sampai sekarang dan pada masa-masa yang akan datang. Maka ini sekelumit manaqib Sulthon Auliya Syekh Abdul Qodir Jailani, qodasallohu syiroh kutipan dari kitab ‘Uqudul La Ali fi Manaqibil Jayli dan kitab Tafrihul Khotir fi manaqibi Syekh Abdul Qodir. Semoga dengan dibacakan manaqib ini, yakni riwayat serta sejarah Syekh Abdul Qodir Jaelani, senantiasa Alloh subhanahuwata’ala melimpahkan karunia kepada kita sekalian, terutama kepada shohibul hajat, …… keselamatan dan keberkahannya, semoga dimudahkan rijki yang halal, dijauhkan dari malapetaka, marabahaya dunia dan akhirat, dan selalu dilimpahkan keselamatan dan kesejahteraan dalam keridoan Alloh Subhanahu Wata’ala. Semoga Alloh mengabulkan segala niat dan maksud kita, semoga dimudahkan segala urusan kita baik yang berhubungan dengan dunia maupun akhirat. Amin ya robbal alamin.

Adapun diantara manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani sebagai berikut:

Manqobah ke 39

Setiap Datang Tahun Baru, Memberitahu Kepada Syekh Abdul Qodir Peristiwa Yang Akan Terjadi Pada Tahun Itu

Diriwayatkan di dalam kitab Bahjatul Asror bahwa Syekh Abdul Qodir pada suatu saat terbang melayang-layang di atas ribuan manusia di majelis pengajian yang beliau pimpin, beliau besabda :“Tiada terbit matahari melainkan mengucapkan salam kepadaku”. Pada setiap datang tahun selalu memberi salam kepadaku, dan memberitahu yang akan terjadi pada tahun itu. Pada setiap datang bulan, memberi salam kepadaku dan memnceritakan apa yang akan terjadi pada bulan itu. Demikian pula setiap datang minggu dan hari, minggu dan hari itu memberi salam kepadaku dan memberitahukan yang akan terjadi pada minggu dan hari itu.

Demi Dzat Alloh Yang Maha Mulia, orang-orang yang suka dan duka semuanya di beritahukan kepadaku. Pandangan mataku selalu di Laoh Mahfud dan aku tenggelam dalam lautan ilmu Alloh dan lautan musyahadah, akulah yang menjadi hujjah Alloh, akulah yang menjadi pengganti Rosululloh Solallohu alaihi wasalam . Akulah yang menjadi pewarisnya di bumi, manusia ada gurunya, malaikat ada gurunya, jin ada gurunya, aku guru semuanya. “
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Manqobah Ke-40

Syekh Abdul Qodir Diberi Buku Untuk Mencatat Murid-Muridnya Sampai Hari Kiamat.

Diriwayatkan didalam kitab Bahjatul Asror, Syekh Abdul Qodir pernah berkata : “Aku diberi sebuah buku yang luasnya sejauh mata memandang untuk menuliskan nama-nama muridku sampai hari kiamat. Semua murid itu telah Alloh berikan kepadaku dan telah menjadi milikku. Aku pernah bertanya kepada Malak Malik , “Apakah ada murid dan sahabatku dalam neraka ?” Malak Malik menjawab : “Tidak ada”
Syekh berkata : “Aku bersumpah, demi kemuliaan Tuhanku. Tanganku atas murid-muridku seperti langit menutupi bumi. Andaikan murid-muridku itu buruk,dan salah maka akulah yang baik, dan benar. Dan aku bersumpah, demi keagungan dan Kemuliaan Tuhanku, dua telapak kakiku tidak akan bergeser dihadapan Tuhan kecuali sudah mendapat keputusan bahwa aku bersama-sama muridku telah masuk surga.”
Lebih lanjut beliau bersabda :”Tanganku tidak akan lepas dari kepala murid-muridku,walaupun aku sedang berada ditimur dan muridku di barat, lalu muridku itu tersingkap auratnya maka tanganku akan segera menutupinya. Demi Keagungan dan Kemuliaan Tuhanku, pada hari kiamat aku akan berdiri tegak di hadapan pintu gerbang neraka kalau-kalau ada muridku yang dimasukan kedalam neraka, sekali lagi aku tidak akan bergeser sebelum semua muridku masuk kedalam surge, karena Alloh Yang Maha Kuasa telah menjanjikan bahwa murid-muridku tidak akan dimasukan kedalam neraka. Barang Siapa yang berguru serta mahabbah kepadaku, pasti aku menghadap kepadanya. Dan malaikat Munkar Nakir telah berjanji padaku , bahwa mereka tidak akan menakut-nakuti murid-muridku.”
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Manqobah Ke-24

Masyarakat Yang Menderita Penyakit Tho’un, Sembuh Dengan Rumput Dan Air Madrosah Syekh Abdul Qodir

Para ulama meriwayatkan, pernah terjadi pada jaman Syekh Abdul Qodir berjangkit wabah penyakit tho’un sehingga ratusan ribu orang meninggal dunia. Masyarakat berduyun-duyun datang meminta pertolongan kepada Syekh, beliau mengumumkan kepada mereka :” Barangsiapa makan rerumputan madrosahku. Alloh akan meyembuhkan penyakit yang dideritanya.” Karena terlalu banyak yang sakit, rumput itu habis, Syekh mengumumkan lagi ”Barangsiapa meminum air madrosahku akan segera disembuhkan Alloh SWT.” Mendengar pengumuman itu, para penderita penyakit beramai-ramai minum air madrosah Syekh, seketika itu juga mereka menjadi sembuh kembali dan penyakit tho’un pun lenyap.
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Manqobah ke-27

Syekh Abdul Qodir Membeli 40 Ekor Kuda Untuk Orang Sakit

Diriwayatkan, ada seseorang yang bertempat tinggal agak jauh dari kota Baghdad. Terdengar berita tentang kemashuran Syekh Abdul Qodir, ia pun bermaksud akan berziarah kepada Syekh karena terdorong oleh rasa mahabbah. Setibanya di lokasi kediaman Syekh, ia keheranan melihat istal kudanya megah sekali, lantai istalnya dibuat dari emas dan perak, pelananya dibuat dari sutera dewangga, kudanya 40 ekor, semuanya bagus-bagus dan mulus-mulus, tiada bandingannya. Terlintas dalam hatinya prasangka yang kurang baik :”Katanya ia seorang wali, tetapi mengapa kenyataanya seorang pecinta dunia. Mana ada seorang wali mencintai dunia?, tidak pantas diberi gelar waliyulloh.”Niat semula untuk bertemu dengan Syekh, seketika itu juga dibatalkan, lalu ia bertamu kepada orang lain di kota itu. Beberapa hari kemudian ia jatuh sakit sangat parah, tidak ada seorang dokterpun di kota itu yang mampu mengobatinya. Ada seorang paranormal beragama Nasrani yang memberi petunjuk, “Penyakitnya itu tidak bisa sembuh kecuali dengan hati kuda, dengan syarat kudanya harus seperti kuda yang dimiliki oleh Syekh ‘Abdul Qodir, beliau seorang yang sangat dermawan, pasti mau menolong.”Setiap hari disembelihlah seekor kuda untuk diambil hatinya, selama 40 hari, sehingga 40 kuda habis semuanya. Dengan 40 hati kuda itu, sembuhlah orang itu seperti sedia kala. Dengan rasa syukur tiada terhingga diiringi rasa malu, ia datang menghadap Syekh mohon ampunannya. Syekh berkata: “ Untuk kamu ketahui,sejumlah kuda yang kubeli itu sebenarnya untukmu, karena aku tahu kamu akan mendapat musibah, menderita penyakit yang tidak ada obatnya kecuali dengan empat puluh hati kuda. Aku tahu maksudmu semula , kamu datang mau berziarah kepadaku semata-mata didorong rasa cinta kepadaku, namun kamu berprasangka buruk kepadaku sehingga kamu bertamu kepada orang lain.” Setelah mendengar penjelasan itu, ia merasa bersalah dan segera bertobat, lalu Syekh meluruskan niatnya dan memantapkan keyakinannya. Dan paranormal itupun masuk Islam.
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Manqobah ke-3

Kecerdasan Syekh Abdul Qodir Waktu Menuntut Ilmu

Dalam menuntut ilmu, Syekh Abdul Qodir berusaha memilih guru-guru yang ahli dalam bidangnya. Beliau mempelajari dan memperdalam bermacam-macam disiplin ilmu. Seluruh gurunya mengungkapkan tentang kecerdasannya. Beliau belajar ilmu Fiqih dari Abil Wafa ‘Ali bin Aqil, dari Abi ‘Ali Khothob al-Kawadani dan Abi Husein Muhammadibnil Qodli. Ilmu adab dari Abi Zakaria at-Tibrizi. Ilmu thoriqot dari Syekh Abil Khoir Hamad bin Muslim bin Darwatid Dibas.Sejak itu beliau terus-menerus meraih pangkat yang sempurna berkat rahmat Alloh Yang Maha Esa, sehingga beliau menduduki pangkat tertinggi dalam kewalian. Dengan semangat juang yang tinggi disertai tekad yang kuat beliau berusaha mengekang serta mengendalikan hawa nafsunya. Beliau berkholawat di Irak dua puluh lima tahun lamanya tidak berjumpa dengan orang.

Manqobah ke-4

Budi Pekerti Syekh Abdul Qodir

Syaikh Abdul Qodir Jailani sangat takut kepada Alloh SWT, oleh karenanya beliau mudah terharu serta mudah mengeluarkan air mata. Doanya diqobul Alloh. Beliau seorang dermawan, jauh dari keburukan dan selalu dekat dengan kebaikan. Berani dan kokoh dalam mempertahankan hak, tegas dalam menghadapi kemungkaran. Pantang menolak orang yang meminta-minta walaupun yang dimintanya pakaian yang sedang beliau pakai. Tidak marah karena hawa nafsu, tidak memberi pertolongan yang bukan karena Alloh. Beliau diwarisi akhlak Nabi Muhammad Saw, tampan nabi Yusuf As, benar syaidina Abu Bakar ash-shiddiq ra; adil ‘Umar bin Khothob ra ; hilim Syaidina ‘Ustman bin ‘Affan ra, kegagahan serta keberanian sayidina ‘Ali bin Abi Tholib karromallohu wajhahu.
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Manqobah ke-51

Wasiat Syekh Abdul Qodir Kepada Putranya Abdul Rozak

Syaikh Abdul Qodir telah berwasiat kepada putranya yang bernama Abdul Rozak dengan beberapa wasiat, di antaranya: Wahai anakku, semoga Alloh melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepadamu dan kepada segenap kaum musimin. Wahai anakku, bertakwalah kepada Alloh, pegang syara dan laksanakan, dan pelihara batas-batasnya.
Ketahuilah bahwa thoriqotku dibangun berdasarkan al-Qur’an dan sunnah Rosululloh s.a.w. Hendaknya kamu berjiwa bersih, dermawan, murah hati dan suka memberi pertolongan kepada orang lain dengan jalan kebaikan. Jangan keras hati atau berlaku tidak sopan. Sebaiknya kamu bersikap sabar dan tabah menghadapi segala ujian dan coabaan. Hendaknya kamu mengampuni kesalahan orang lain dan bersikap hormat kepada sesama ikhwan dan semua fakir miskin. Pelihara olehmu kehormatan guru-guru, dan berbuat baiklah kepada orang lain, beri nasihat yang baik kepada orang-orang besar tingkat kedudukannya, demikian pula bagi masyarakat kecil. Jangan suka berbantah-bantahan dengan orang lain kecuali dalam masalah agama. Ketahuilah bahwa hakikat kemiskinan adalah perlu kepada orang lain, dan hakikat kekayaan adalah tidak perlu kepada yang lain. Tashowuf dicapai dengan jalan lapar dan pantangan dari hal-hal yang disukai dan dihalalkan, dan tidak banyak bicara. Jika kamu berhadapan dengan orang fakir, jangan dimulai dengan ilmu, sebab akan menjauh darimu. Sebaliknya, hendaklah dimulai dengan kasih sayang, bersikap lembutlah terhadapnya, membuatnya lebih dekat kepadamu. Tashowuf dibangun di atas delapan hal yakni;
  1. Dermawan,
  2. Ridlo,
  3. Sabar,
  4. Isyaroh,
  5. Mengembara,
  6. Berbusana bulu,
  7. Pecinta alam, dan
  8. Fakir.
Dermawan Nabi Ibrohim, Ridlo Nabi Ishaq, Sabar Nabi Ayyub, ‘Isyarohnya Nabi Zakariya, Mengembara seperti Nabi Yusuf, Berbusana wool seperti Nabi Yahya, Pecinta Alam Nabi Isa, Dan Kefakiran Nabi Muhammad Saw.
Bila kamu berkumpul bersama orang kaya, perlihatkan kegagahanmu. Kerendahan hati bila berkumpul dengan orang miskin.Hendaknya kamu ikhlas dalam setiap perbuatan. Seharusnya selalu mengingat Alloh. Jangan berprasangka buruk kepada Alloh. Harus berserah diri kepada Alloh dalam segala perbuatan. Jangan menggantungkan diri kepada orang lain, walaupun keluarga maupun teman sejawat. Layani fakir miskin dengan 3 hal yakni ; pertama, tawadlu ; kedua, budi pekerti ; ketiga, kebeningan hati. Perhatikan olehmu bahwa yang paling dekat kepada Alloh ialah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan amal yang paling utama ialah memelihara hati dari melirik kepada selain Alloh.Bila bergaul dengan orang miskin, berwasiatlah dengan kebenaran dan kesabaran. Cukup bagimu dari dunia ini dua hal; Pertama: bergaul dengan orang miskin, Kedua: menghormati wali,
Selain daripada Alloh, segala sesuatu itu jangan dipandang cukup, gagah kepada yang dibawahmu adalah pengecut, gagah terhadap sesama adalah lemah,dan gagah kepada yang lebih tinggi kedudukannya adalah sombong.Ketahuilah bahwa tashowuf dan fakir merupakan dwi tunggal kebenaran yang hakiki, bukan main-main, oleh karena itu jangan dicampur dengan main-main.Demikian wasiat ayah, semoga Alloh melimpahkan taufik dan hidayahNya kepadamu dan kepada murid-murid, atau kepada siapapun yang mendengar wasiat ini, semoga dapat mengamalkan dengan syafa’at junjunan kita Nabi Muhammad Saw, amin ya robbal alamin
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Manqobah ke 53

Syekh Abdul Qodir Wafat

Menjelang akhir hayatnya, Malak Ijro’il datang mengunjungi Syekh di kala matahari akan terbenam membawa surat dari Alloh SWT untuk Syekh dengan alamat sebagai berikut :
يَصِّلُ حَادَ الْمَقْتُوْبُ مِنَ الْمُحِبِّ إِلاَّ الْمَحْبُوبِ

Yashilu hadzal maktubu minal muhibbi ilal mahbubi
“Surat ini dari Dzat Yang Maha Pengasih disampaikan kepada wali yang dikasihi”.
Kemudian surat tersebut diterima oleh putranya yang bernama Sayyid Abdul Wahhab. Setelah diterima, masuklah ia bersama Malak Ijro’il. Sebelum surat dihaturkan kepada Syekh, beliau sudah mengerti bahwa beliau akan berpindah ke alam ‘uluwi, alam tinggi yakni meninggal dunia.Syekh bersabda kepada putra-putranya :”Jangan mendekat, karena lahiriyahku bersama-sama dengan kamu, sedang bathiniyahku besama dengan selain kamu, dan perluas ruangan ini, karena hadir selain daripadamu, tunjukan sopan santunmu.
"Siang dan malam tak henti-hentinya beliau mengucapkan:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ غَفَرَ اللهُ لِى وَلَكُمْ تَابَ اللهُ عَلَيَّ وَعَلَيْكُمُ بِسْمِ اللهِ غَيْرِ مُودِعِيْنَ
Wa’alaikumus salam wa rohmatullohi wa barokatuh, ghofarollohu li walakum, taballohu ‘alayya wa ‘alaikum, bismillahi ghoiri mudi’ina.
dan membaca
وَدْخُلُ فِى صَفِّلْ اَوَّالِ إِذًَ اَجِيْعُ اِلَيْكُمْ رِفْقً رِفْقً وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ اَجِيْعُ اِلَيْكُم
Wad khulu fi shoffil awwali, idzan aji’u ilaikum, rifqon rifqon wa ‘alaikumus salamu aji’u ilaikum kifuu atahul haqqu wasakarotu maut.
dan dibaca
قِفُوْ اَتَحُلْ حَقُّ وَسَكَرَةُ الْمَوْتِ
Qifu atahul haqqu wa sakarotul maut
Beliau berpesan :
"Jangan ada yang menanyakan apapun kepadaku setelah aku bolak-balik dalam lautan ilmu Alloh", lalu membaca:
اِسْتَعَنْتُ لاَ اِلـٰهَ اِلاَّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالىٰ وَلـْحَِيّ الَّذِيْ لاَ يَخْسَ الْفَوْتُ سُبْحَانَ مَنْ تَعَزَّزَ بِ الْقُدْرَاةِ وَقَحَّارَ إِبَادَهُ بِ الْمَوْتِ لاَ اِلـٰهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌارَّسُوْلُ اللهِ تَعَزَّزَ تَعَزَّزَ اَللهُ اَللهُ اَللهُ
Ista’antu bi lailaha illallohu, subhanahu wa ta’ala hayyil ladzi la yakhsal fautu, subhana man ta’azzaza bil qudroti waqoharo ‘ibadahu bil mauti la illaha illallohu muhammadur rosulullohi, ta ‘azzaza, ta’azzaza allohu allohu allohu
Terdengar suara nyaring, lalu suaranya lembut tidak terdengar lagi dan meninggallah ridwanullohu alaihi.

Syekh wafat pada malam senin ba’da isya, tanggal 11 Robi’ul akhir tahun 561 Hiriyah (1166 Masehi) pada usia 91 tahun.
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Manqobah ke 35

Syekh Ahmad Kanji Menjadi Murid Syekh Abdul Qodir Atas Petunjuk Gurunya

Diriwayatkan, pada suatu hari Syekh Ahmad Kanji sedang mengambil air wudlu, terlintas dalam hatinya bahwa thoriqot Syekh Abdul Qodir itu lebih disukai daripada thoriqot-thoriqot lainnya. Gurunya yaitu Syekh Abi Ishak Maghribi mengetahui pula apa yang terlintas dalam hati muridnya, lalu beliau bertanya : “ Apakah kamu mengetahui kedudukan Syekh Abdul Qodir ?” Dijawab oleh Syekh Ahmad Kanji :”Saya tidak tahu”. Lalu gurunya menjelaskan :”Syekh Abdul Qodir itu memilik dua belas sifat. Kalau lautan dijadikan tintanya dan pepohonan dijadikan penanya, manusia, malaikat dan jin sebagai penulisnya, maka tidak akan mampu menuliskan satu sifatpun.”Mendengar penjelasan dari gurunya itu, ia makin bertambah mahabbah kepada Syekh Abdul Qodir, hatinya berbisik: “Satu harapanku, tidak meninggal dunia sebelum aku menjadi muridnya.”Kemudian dengan kemauan yang keras berangkatlah ia menuju kota Baghdad. Setibanya di sebuah gunung di wilayah Ajmir yang dibawahnya mengalir sungai, ia mengambil air wudlu untuk sholat. Di dalam keadaan tidur dan tidak, ia dikunjungi Syekh Abdul Qodir, beliau membawa mahkota merah dan sorban hijau. Syekh Ahmad Kanji berdiri menghormati kedatangannya:”Mari kesini lebih dekat”, kata beliau sambil mengenakan mahkota dan sorban hijau diatas kepalaku, lalu bersabda :”Wahai Ahmad Kanji, sekarang kamu sudah menjadi muridku, sudah menjadi anakku dan menjadi rijalulloh (laki-laki Alloh).” Lalu beliau menghilang, mahkota dan sorban sudah melekat terpakai di atas kepalaku.Lalu ia sujud syukur atas nikmat Alloh yang telah di terimanya. Kemudian ia pulang ke gurunya sambil memperlihatkan mahkota merah dan sorban hijau hadiah dari Syekh Abdul Qodir dan menceritakan peristiwa yang telah dialaminya. Gurunya berkata ”Wahai Ahmad Kanji, mahkota dan sorban itu adalah hirkoh bagimu, kamu sangat dikasihi Syekh Abdul Qodir, sekarang berdirilah dengan tegak, kamu telah menjadi wali yang utama.”Dengan mengharap keberkahannya, Syekh Abi Ishak Maghribi memakai mahkota dan sorban itu dikepalanya dan diserahkannya kembali kepada Syekh Ahmad Kanji.
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Mankobah ke 36

Syekh Ahmad Kanji Menjunjung Kayu Bakar di Atas kepalanya

Pekerjaan Syekh Ahmad Kanji adalah mencari kayu bakar untuk memasak roti bagi para fakir. Setelah mengenakan mahkota dari Syekh Abdul Qodir, gurunya berkata : “ Sekarang kamu tidak layak mencari kayu bakar sebab kepalamu sudah dimahkotai dengan mahkota yang mulia”.Namun Syekh Ahmad Kanji memohon ijin dari gurunya untuk mencari kayu bakar. Ujar gurunya :” Ya kalau begitu terserah kamu.”Iapun berangkat ke gunung mengumpulkan kayu bakar lalu diikat. Waktu akan dipikul, kayu bakar itu melayang di atas kepala Syekh Ahmad Kanji, kira-kira sehasta dari kepalanya. Lantas Syekh Ahmad Kanji pulang ke gurunya. Kayu bakar terus melayang mengikuti Syekh Ahmad Kanji.Setibanya di tempat Syekh Abi Ishak Maghribi, gurunya itu berkata : “ Nah Syekh Ahmad Kanji, apa kataku, kamu tidak pantas lagi memikul kayu bakar, sebab sudah ditempati mahkota dan sorban yang mulia. Mulai sekarang, sudahlah jangan mencari kayu bakar. Kamu oleh Syekh Abdul Qodir sudah ditunjukan ke pangkat Rijalulloh
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Mankobah ke 15

Nama Syekh Abdul Qodir Seperti Ismul Adzhom

Di riwayatkan dalam kitab Haqoikul Haqoik, ada seorang perempuan datang menghadap Syekh Abdul Qodir mengadukan hal anaknya.“ Saya mempunyai seorang anak, kini ia hilang tenggelam ke dasar laut, saya yakin Tuan Syekh dapat mengembalikan anak saya hidup kembali, saya mohon pertolongan Tuan.” Mendengar perempuan itu Syekh berkata, “ Sekarang kamu pulang, anakmu sudah ada di rumah.” Perempuan itu pulang dengan tergesa-gesa, setibanya di rumah anaknya belum ada. Segera ia menghadap kembali kepada Syekh sambil menangis melaporkan bahwa anaknya belum ada. Syekh berkata, “ Sekarang anakmu sudah ada di rumah, sebaiknya kamu segera pulang.”
Perasaan rindu pada anaknya menggebu-gebu, namun setibanya di rumah, anaknya belum juga ada.Dengan penuh keyakinan ia datang lagi menghadap Syekh sambil menangis memohon anaknya hidup kembali. Kemudian Syekh menundukan kepalanya dan tegak kembali sambil berkata, “ Sekarang tidak salah lagi, pasti anakmu sudah ada di rumah.” Dengan penuh harap ia pulang ke rumahnya, anaknya sudah ada berkat karomah Syekh Abdul Qodir.
Mengenai peristiwa ini Syekh munajat kepada Alloh. “ Ya Alloh, Engkau Maha Kuasa menciptakan mahluk dengan mudah, demikian pula pada waktu mengumpulkan mahluk di padang mahsyar, hanya dalam tempo yang singkat sudah berkumpul, mengapa hanya menghidupkan seorang saja sampai tiga kali, hamba malu oleh perempuan itu. Dan apa hikmahnya ?.Alloh Subhanahuwata’ala menjawab,” Semua ucapanmu kepada perempuan itu tidak salah, pertama kali kamu mengatakan kepada perempuan itu anaknya sudah ada di rumah, malaikat baru mengumpulkan tulang belulangnya yang berserakan, dan yang kedua kalinya, seluruh anggota tubuhnya baru utuh kembali dan dihidupkan, ketiga kalinya si anak diangkat dari dasar laut lalu dikembalikan ke rumahnya.”
Alloh berfirman ” Wahai Abdul Qodir kamu jangan kecewa, sekarang silahkan kamu minta, pasti aku beri. Spontan Syekh merebahkan kepalanya bersujud sambil berkata.“Engkau Kholik, apa saja yang Engkau berikan akan kuterima.”
Lalu Alloh memberi hadiah kepada Syekh dan berfirman, “ Barangsiapa melihatmu pada hari Jum’at, ia akan kujadikan wali, dan kalau kamu melihat tanah tentu akan menjadi emas.” Syekh berkata,” Ya Alloh, semua pemberian-Mu kurang begitu bermanfaat bagiku, aku mohon karunia-Mu yang lebih bermanfaat dan lebih mulia setelah aku tiada,” Alloh Subhanahuwata’ala berfirman, “ Namamu dibuat seperti nama-Ku, barangsiapa menyebut namamu, pahalanya sama dengan yang menyebut nama-Ku”
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Mankobah ke 16

Syekh Abdul Qodir Menghidupkan Orang Yang Sudah Mati

Diriwayatkan di dalam kitab Asrorut Tolibin, Syekh Abdul Qodir pada waktu melewati suatu tempat bertemu dengan seorang umat Islam sedang berdebat dengan seorang umat Nasrani. Beliau menyikapi dengan seksama dan menanyakan apa yang menjadi sebab perdebatan itu.Kata orang muslim, “Kami sedang membangga-banggakan Nabi kami masing-masing, dan Saya berkata padanya, Nabi Muhammad lah yang paling utama.”Kata orang Nasrani,”Nabi Isalah yang paling sempurna,” Lalu Syekh bertanya kepada orang Nasrani, “ Apa yang menjadi dasar kamu mengatakan bahwa Nabi Isa lebih sempurna daripada Nabi Muhammad ?”Orang Nasrani menjawab,” Nabi Isa bisa menghidupkan orang yang sudah mati.” Syekh berkata lagi,” Kamu tahu Aku bukan nabi, aku hanya pengikut Nabi Muhammad solallohu ‘alaihi wasalam.Kalau aku bisa menghidupkan orang yang sudah mati, kamu bersedia untuk beriman kepada Nabi Muhammad Solallohu ‘alaihi wasalam?”. “ Baik Saya mau beriman dan masuk agama islam,” jawab orang Nasrani itu.“Kalau begitu mari kita mencari kuburan,” lanjut Syekh.Setelah mereka menemukan sebuah kuburan tua, sudah berusia limaratus tahun, lalu Syekh mengulangi lagi pertanyaannya, “ Nabi Isa kalau menghidupkan orang yang sudah mati bagaimana caranya ?” Orang Nasrani menjawab,’beliau cukup dengan mengucapkan :
كُمْ بِاِذْنِ الله
Qum bi idznillah
Bangunlah dengan izin Alloh.
”Nah sekarang kamu perhatikan dan dengarkan baik-baik,” kata Syekh lalu beliau menghadap ke kuburan tadi sambil mengucapkan :
كُمْ بِاِذْنِىْ
Qum bi Idzni
bangunlah dengan izinku.
Kuburan terbelah dua, keluarlah mayat itu sambil bernyanyi. Konon pada waktu hidupnya ia seorang penyanyi. Melihat dan menyaksikan peristiwa itu, orang Nasrani berubah keyakinan menjadi beriman kepada Nabi Muhammad solallohu ‘alaihi wasalam dan masuk agama Islam.
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Mankobah ke 17

Syekh Abdul Qodir Merebut Ruh Dari Malaikat Maut

Abu Abbas Ahmad Rifai meriwayatkan Ada seorang pelayan Syekh Abdul Qodir yang meninggal Dunia. Kemudian istrinya datang menghadap beliau mengadukan halnya sambil menangis.Karena ratapnya itu Syekh menundukan kepala bertawajuh kepada Alloh, ketika itulah beliau melihat malak maut sedang ke langit membawa sekeranjang ma’nawi penuh dengan ruh-ruh manusia yang baru selesai dicabut pada hari itu. Kemudian beliau meminta kepada malak maut untuk menyerahkan nyawa muridnya. Permintaan itu ditolak oleh malak maut. Lalu beliau merebut keranjang ma’nawi itu, dan tumpahlah semua nyawa yang ada di dalamnya dan kembali ke jasadnya masing-masing.
Menghadapi kejadian ini malak maut unjuk pihatur kepada Alloh Subhanahuwata’ala. “ Ya Alloh, Engkau Maha Mengetahui tentang kekasihmu dan Wali-Mu Abdul Qodir.” Alloh berfirman,”Memang benar Abdul Qodir itu kekasihku, karena tadi pelayannya tidak kamu berikan akibatnya seluruh ruh itu terlepas, dan sekarang kamu menyesal karena kamu tidak memberikannya.
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Mankobah ke 11

Telapak Kaki Nabi Muhammad s.a.w Memijak Pundak Syekh Abdul Qodir Pada Malam Mi’roj

Syekh Rosid Al Junaidi meriwayatkan pada malam mi’roj Malaikat datang menghadap Rosulullohi solallohu ‘alaihi wasalam membawa Buroq. Kakinya bercahaya laksana bulan, dan paku telapak kakinya bersinar seperti sinar bintang. Di kala Buroq itu dihadapkan kepada Rosululloh solallohu ‘alaihi wasalam, ia tidak bisa diam dan kakinya bergoyang-goyang. Rosululloh Solallohu ‘alaihi wasalam bertanya,” Mengapa kamu tidak diam ? Apa kamu tidak mau Ku kendarai ?” Buroq menjawab, “ Demi nyawa hamba yang menjadi penebusnya, hamba tidak menolak, namun ada satu permohonan, yaitu ketika Yang Mulia Rosululloh akan masuk sorga, tidak menunggangi yang lain,’ Rosululloh menjawab, “Baik permintaanmu akan kukabulkan.”Buroq itu masih mengajukan permohonannya,” Hendaknya tangan yang mulia memegang pundak hamba sebagai tanda bukti nanti pada hari kiamat. Lalu dipegangnya pundak Buroq itu oleh Rosululloh solallohu ‘alaihi wasalam.Karena gejolak rasa gembira, jasad burok itu tidak cukup untuk menampung ruhnya, badanya meninggi menjadi empatpuluh hasta tingginya, Rosululloh terpaku sebentar, melihat badan buroq itu menjadi tinggi, Rosululloh memerlukan tangga. Saat itu juga, datanglah Goutsul Adzom Syekh Abdul Qodir Jailani bertekuk lutut di hadapan Rosululloh solallohu ‘alaihi wasalam sambil berkata,” Silakan pundak hamba dijadikan tangga. Rosululloh solallohu ‘alaihiwasalam memijakan kakinya pada pundak Syekh, lalu Rosululloh solllohu ‘alaihi wasalam naik Buroq. Di saat itu Rosululloh solallohu ‘alaihi wasalam bersabda, Sebagaimana telapak kakiku menginjak pundakmu, maka telapak kakimu akan menginjak pundak para waliyulloh.”
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Mankobah ke 7

Kebiasaan Syekh Abdul Qodir Setiap Malam Digunakan Untuk Ibadah Solat dan Dzikir

Syekh Abu Abdillah Muhammad Al Hirowi meriwayatkan, Saya berkhidmat mendampingi Syekh Abdul Qodir selama empat puluh tahun. Selama itu, aku menyaksikan beliau solat subuh dengan wudlu isya. Se-usai solat Syekh masuk kholwat sampai waktu solat subuh. Para pejabat pemerintah banyak yang datang untuk bersilaturahmi, tapi kalau datangnya malam hari tidak bisa bertemu dengan beliau, terpaksa mereka harus menunggu sampai waktu subuh. Pada suatu malam aku mendampingi Beliau, sekejapun aku tidak tidur, aku menyaksikan sore harinya beliau melaksanakan solat-solat dan pada malam harinya dilanjutkan dengan berdzikir melewati sepertiga malam, lalu beliau membaca :
اَلْمُحِيْطُ الرَّبُّ الشَّهِيْدُ الْحَسِيْبُ الْفَعَّالُ الْخَلاَّقُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ.
Tampak badannya mengecil sampai kecil sekali, lalu badanya membesar lagi dan meninggi sampai tinggi sekali hingga tidak tampak dari pandanganku. Kemudian beliau muncul lagi berdiri melakukan solat, dan sujudnya lama sekali.Demikianlah beliau beribadah semalam suntuk, setelah dua pertiga malam beliau menghadap kiblat sambil membaca do’a-do’a, tiba-tiba terpancar sinar menyoroti beliau sehingga badannya diliputi sinar dan tidak henti-hentinya terdengar suara yang mengucapkan salam sampai terbit fajar.
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Mankobah ke 2

Beberapa Tanda Kemuliaan Waktu Syekh Abdul Qodir Dilahirkan

Sayid Abu Muhammad Abdul Qodir Al Jailani dilahirkan di Naif Jailan Iraq pada tanggal 1 Romadon 470 Hijriyah, bertepatan dengan tahun 1077 Masehi. Beliau wafat pada tanggal 11 Robiul Akhir 561 hijriyah bertepatan dengan tahun 1166 Masehi pada usia 91 tahun. Beliau dikebumikan di Bagdad Iraq.
Pada malam Syekh dilahirkan ada 5 karomah :
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Mankobah ke 32

Syekh Abdul Qodir Berbuka Puasa di Rumah Muridnya Pada Waktu Yang Sama

Diriwayatkan pada suatu hari bulan romadon Syekh Abdul Qodir di undang berbuka puasa oleh murid-muridnya sebanyak tujuhpuluh orang di rumahnya masing-masing. Mereka berkeinginan agar Syekh Abdul Qodir berbuka puasa di rumahnya. Mereka tidak mengetahui bahwa masing-masing dari mereka mengundang Syekh untuk berbuka puasa pada waktu yang bersamaan. Tiba waktunya berbuka puasa, Syekh berbuka puasa di rumah beliau, detik itu juga rumah muridnya yang tujuhpuluh orang itu masing-masing dikunjunginya dan berbuka puasa tepat pada waktu yang sama. Peristiwa itu di kota Bagdad sudah mashur di kalangan masyarakat dan sudah menjadi buah bibir masyarakat dalam setiap pembicaraan dan pertemuan.
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Mankobah ke 22

Syekh Abdul Qodir Setiap Tahun Membebaskan Hamba Sahaya dari Perbudakan, Serta Nilai Busana Yang Beliau Pakai

Sebagian kitab manakib meriwayatkan, sudah menjadi tradisi bahwa setiap hari raya Syekh Abdul Qodir membeli beberapa hamba sahaya untuk dimerdekakan dari belenggu perbudakan. Kemudian Syekh mengantarkan mereka agar wusul kepada Alloh Subhanahuwata’ala.
Dan apabila Syekh Abdul Qodir berpakaian, beliau memakai pakaian yang serba indah, bagus dan mahal harganya. Nilai kainnya seharga sepuluh dinar perelonya(0,688meter) dan tutup kepalanya seharga 70.000 dinar. Terompahnya di tratas intan berlian dan jamrud. Paku terompahnya terbuat dari perak. Namun pakaian yang serba mahal itu bila ada orang yang memerlukannya, saat itu juga beliau berikan.
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Mankobah ke 33

Syekh Abdul Qodir menyelamatkan muridnya, seorang wanita dari penghianatan lelaki jahat

Diriwayatkan di Bagdad ada seorang wanita cantik. Sebelum ia menjadi murid Syekh Abdul Qodir ada seorang lelaki fasik, hidung belang, dan tuna susila menaruh perhatian pada wanita itu, namun cintanya tidak dibalas. Lelaki itu tak henti-hentinya berusaha mencari jalan untuk melakukan nafsu jahatnya. Pada suatu hari, wanita itu berangkat menuju sebuah goa di suatu gunung untuk berkholwat dengan tujuan ibadah. Tanpa ia ketahui bahwa ia sedang diintai oleh lelaki tadi. Ketika wanita itu tiba di dalam goa, si lelaki jahat itu masuk, dengan sekuat tenaga ia mau memperkosa wanita itu, wanita itupun berusaha menghindar dari kejahatan lelaki itu sambil berteriak memanggi-manggil Syekh Abdul Qodir, “Ya Syekh sakolain, Ya goutsul adzom, ya Syekh Abdul Qodir, tolonglah saya,” Demikian wanita itu bertawasul dan beristigosah. Waktu itu Syekh sedang mengambil air wudu untuk melaksanakan solat di madrosahnya, lalu dilepasnya sepasang bakiak syekh, dilemparkan kearah goa dan tepat mengenai kepala lelaki jahat itu. Di kala lelaki jahat itu akan melakukan aksinya, bertubi-tubi sepasang bakiak memukul, menampar lelaki itu dengan pukulan-pukulan yang mematikan dan seketika itu juga ia mati. Wanita itu segera mengambil sepasang bakiak Syekh, lalu diserahkannya kepada Syekh. Kemudian ia mengucapkan terima kasih atas pertolongannya.
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Mankobah ke 31

Syekh Abdul Qodir Berziarah ke makam Rosululloh solallohu’alaihi wasalam dan mencium tangan Beliau

Pada waktu Syekh Abdul Qodir berziarah ke makam Rosululloh solollohu’alaihi wasalam di Madinah Munawaroh. Setibanya di sana beliau langsung masuk ke makam Rosululloh solallohu’alaihi wasalam yaitu Hujroh Sarifah, selama empat puluh hari beliau bermukim di hadapan makam Rosululloh solallohu’alaihi wasalam, kedua tangannya di letakan pada dadanya sambil bermunajat mengharap rahmat Alloh, menumpahkan isi hati nuraninya,
ذُنُوْبِى كَمَوْجِ الْبَحْرِ بَلْ هِيَ أَكْثَرُ ۩كَمِثْلِ الْجِبَالِ الشَّامِ بَلْ هِيَ أَكْبَرُوَلَكِنَّهَا عِنْدَ الْكَرِيْمِ إِذَا عَفَا ۩جَنَاحٌ مِنَ الْبُعُوْضِ بَلْهِيَ أَصْغَرُ
Besar dosaku seperti gulungan ombak di laut, bahkan lebih besar, Tinggi setinggi puncak gunung sam, bahkan lebih tinggi, Namun bila Kau ampuni, Ringan seringan sayap nyamuk, kecil bahkan lebih kecil.
Lalu beliau meneruskan munajatnya
فِى حَالـَةِ الْبُعْدِ رُوْحِى كُنْتُ أُرْسِلُهَا ۩ تُقَـبِّلُ اْلأَرْضَ عَنِّى وَهِيَ نَائِـبَتِى
وَهَاذِهِ نَوْبَـةُ اْلأَشْبَاحِ قَدْ حَضَرَتْ ۩ فَامْدُدْ يَمِيْـنَكَ كَيْ تَحْظِى بِهَا شَفَـتِى
Kala jauh dari kekasih, ku utus roh pengganti diri, Ulurkan kini tanganmu kasih, Kan kukecup sepuas hati, Untuk terima safaat kekasih.
Selesai beliau meluapkan isi nuraninya, tangan Rosululloh yang mulia terulur lalu dipegang, diciumnya sepuas hati dan diletakan pada ubun-ubun Syekh.
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

Mankobah ke 8

Berlaku Benar Adalah Dasar Hidup Syekh Abdul Qodir

Suatu hari Syekh Abdul Qodir ditanya oleh seorang muridnya, apakah pandangan hidup Tuan ?
عَلَى الصِّدْقِ وَمَا كَذِبْتُ قَطُّ
Benar pantang bohong
Diriwayatkan waktu Syekh menginjak usia 18 tahun, beliau pergi ke padang rumput menggembalakan seekor unta. Di tengah perjalanan unta itu menoleh ke belakang dan berkata,” Bukan begini tujuan hidupmu di lahirkan ke dunia ini,” Dengan kata-kata unta itu, Syekh kembali ke rumahnya, beliau naik ke loteng menjumpai ibunya. Lalu Syekh memohon kepada ibunya agar mengirimkannya ke Bagdad untuk menuntut ilmu, mendengar permohonan putranya itu, ia sangat setuju dan mengizinkan Syekh berangkat ke Bagdad. Dengan uang bekal 40 dinar, dimasukan ke dalam baju putranya persis dibawah ketiak lalu dijahit agar tidak hilang. Kemudian Syekh Abdul Qodir disuruh menggabungkan diri bersama kafilah yang akan berangkat ke Bagdad. Ibunya berpesan kepada Syekh agar jangan berdusta dalam keadaan bagaimanapun. Setelah kafilah berangkat dan Syekh Abdul Qodir ada di dalamnya, tatkala itu hampir memasuki kota Bagdad, suatu tempat Hamdan namanya, tiba-tiba datang enampuluh orang penyamun berkuda merampok kafilah itu habis-habisan. Perampok tidak ada yang mempedulikan Syekh Abdul Qodir, karena beliau tampak begitu sederhana. Mereka mengira pemuda itu tidak mempunyai apa-apa.Namun ada seorang dari perampok itu bertanya , apa yang kamu punya ? Dijawabnya bahwa Beliau punya empat puluh dinar dijahit di bawah ketiak. Penyamun tidak percaya, lalu ia lapor kepada pimpinannya apa yang telah ia dengar dari pemuda itu. Lalu diperintahkan kepala penyamun, supaya pemuda itu dihadapkan kepadanya. Setelah Syekh menghadap, beliau ditanya oleh kepala perampok.” Benar apa yang kamu katakan tadi ?” Dijawab oleh Syekh, “Benar.” Lalu kepala penyamun itu menyuruh mengiris jahitan bajunya.Dan keluarlah uang empatpuluh dinar. Melihat uang itu, kepala penyamun menjadi keheran-heranan, kemudian menanyakan lagi kepada Syekh Abdul Qodir, apa sebabnya kamu berkata yang sebenarnya. Dengan tenang dijawab oleh Syekh bahwa beliau berjanji kepada ibunya tidak akan berkata bohong kepada siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Mendengar jawaban itu, kepala perampok menangis tersedu-sedu, karena ia merasa dalam hati kecilnya, bahwa selama hidupnya terus menerus melanggar perintah tuhannya, sedangkan pemuda ini tidak berani melanggar janji terhadap ibunya. Lalu sang kepala perampok jatuh terduduk di kaki Syekh Abdul Qodir dan menyesali dosa yang pernah dilakukannya. Dia berjanji dengan sungguh-sungguh akan berhenti dari pekerjaan merampok yang diakuinya sendiri sebagai perbuatan yang hina dan jahat. Kemudian kepala perampok dan anak buahnya mengembalikan semua barang rampokan kepada kafilah, perjalanpun dilanjutkan dengan selamat sampai Bagdad. Ke 60 perampok itu menjadi murid pertama Syekh Abdul Qodir
اَللَّهُمَّ انْثُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ وَأَمِدَّدَنَا بِأَسْرَارِهِ الَّتِى أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

DOA MANAQIB

بِسْمِِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
إِلَى حَضْرَةِ سُلْطَانِ اْلأَوْلِيَاءِ وَقُدْوَةِ اْلأَصْفِيَاءَ قُطْبِ الرَّبَّانِى وَالْغَوْثِ الصَّمَدَنِى السَّيِّدِ الشَيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلاَنِى قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ الْفَاتِحَةَ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَىوَبِأَسْمَاءِ نَبِيِّكَ الْمُصْطَفَى وَبِأَسْمَاءِ وَلِيِّكَ عَبْدِ الْقَادِرِ الْمُجْتَبَى طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنْ كُلِّ وَصْفٍ يُبَاعِدُنَا عَنْ مُشَاهَدَتِكَ وَمَحَبَّتِكَ وَأَمِتْنَا عَلَى السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَشَرِّحْ بِهَا صُدُوْرَنَا وَيَسِّرْ بِهَا أُمُوْرَنَا وَفَرِّجْ بِهَا هُمُوْمَنَا وَاكْشِفْ بِهَا غُمُوْمَنَا وَاغْفِرْ بِهَا ذُنُوْبَنَا وَاقْضِ بِهَا دُيُوْنَنَا وَأَصْلِحْ بِهَا أَحْوَالَنَا وَبَلِّغْ بِهَا آمَالَنَا وَتَقَبَّلْ بِهَا تَوْبَتَنَا وَاغْسِلْ بِهَا حَوْبَتَنَا وَانْصُرْ بِهَا حُجَّتَنَا وَاجْعَلْنَا بِهَا مِنَ الْمُتَّبِعِيْنَ لِشَرِيْعَةِ نَبِيِّكَ الْمُتَّصِفِيْنَ بِمَحَبَّةِ الْمُهْتَدِيْنَ بِهَدْيِهِ وَسِيْرَتِهِ وَتَوَفَّنَا بِهَا عَلَى سُنَّتِهِ وَلاَ تَحْرِمْنَا فَضْلَ شَفَاعَتِهِ وَاحْشُرْنَا فِى زُمْرَتِهِ وَأَتْبَاعِهِ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِيْنَ وَأَشْيَاعِهِ السَّابِقِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الْيَمِيْنِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَعْتَصِمُوْبِحَبْلِ اللهِ
بِبَرَ كَاةِ وَكَرَامَةِ اِسْتِقَ مَاةِ الشَّيْخِ مُحَمَّدْ عَبْدُ الْغَوْثِ سَيْفُ اللهِ مَسْلُوْلُ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ اَلْفَا تِحَةَ

Ila hadroti sultonil aulia wakudwatil asfia kutbirobani walgousis somadani sayidi syekh abdul qodir jaelani qodasallohu siroh alfatihah….
Allohuma soli ‘ala saidina Muhammadin wa’ala alihisayidina Muhammadin .. Allohuma biasma ikal husna wabi asmai nabiyikal mustofa wabiasmai waliyika ‘abdil qodir mujtaba, thohir kulubana minkuli wasfin yuba’iduna an musahadatika wamahabatika wa amitna ‘ala sunnati waljama’ah wasarih biha sudurona wayasir biha umurona waparij biha humumana waksif biha gumumana wagfir biha dunubana wakdi biha duyunana wa aslih biha ahwalana wabalig biha amalana wataqobalbiha taubatana wagsilbiha haubatana wansur biha hujatana waj alna biha minal mutabi’ina lisari’ati nabiyikal mutasifina bimahabatil muhtdin bihadihi wasirotihi watawafana biha ‘ala sunatihi walatahrimna padla safa’atihi wahsur na pi jumrotihi wa atba’ihil guril muhajalinna wa asya’ihis sabikin wa ashabihil yamin ya arhamar rohimin wa’tasimu bihablillah alfatihah….

Sumber : facebook.com
Pengalaman adalah Guru Terbaik. Oleh sebab itu, kita pasti bisa kalau kita terbiasa. Bukan karena kita luar biasa. Setinggi apa belajar kita, tidahlah menjadi jaminan kepuasan jiwa, yang paling utam…

Posting Komentar