Selamat datang dan terima kasih telah mengunjungi website kami. MUQODDIMAH

Sahabat Nuaiman dan Suwaibith serta Suwaida

Sahabat Nuaiman dan Suwaibith serta Suwaida
Sahabat Nuaiman dan Suwaibith serta Suwaida

Nu'aiman

Nuaiman, yach itulah sahabat Rasulullah SAW yang pandai berkelakar serta menjahili Beliau dalam beberapa kesempatan. Suatu ketika, Nuaiman membeli madu dari seorang Badui. Tanpa membayarnya, Nuaiman mengajak orang Badui tadi menghadap Rasulullah SAW dan menyerahkan madu tersebut kepada Beliau sebagai tanda hadiah, dan tanpa sepengetahuan Rasulullah SAW dan orang lain yang hadir Nuaiman berkatan kepada orang Badui tadi, “Mintalah bayarannya dari sini,”

Rasulullah SAW pun senang dengan hadiah pemberian Nuaiman dan kemudian membagikannya kepada yang hadir sampai habis. Sedangkan Orang Badui masih menunggu pembayaran madu yang dibeli Nuaiman namun hal tersebut tak kunjung diterimanya hingga akhirnya dia memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah SAW. “Apa maduku tidak akan dibayar,” tanya orang Badui tadi kepada Rasulullah SAW. Mendengar pertanyaannya, Rasulullah SAW pun tersadar dan tak ada yang berani melakukan ini kecuali Nuaiman. Kemudian Rasulullah SAW menghampiri Nuaiman dan bertanya mengapa dia melakukan ini semua. “Aku ingin berbuat baik kepadamu, tetapi aku tidak memiliki apa-apa,” jawab Nuaiman. Rasulullah SAW hanya tertawa mendengar jawaban Nuaiman dan langsung membayar madu tersebut kepada orang Badui tadi yang memang sudah habis dibagikan.

Kemudian dilain waktu, Nuaiman kembali menjahili Rasulullah SAW dan kali ini seorang Badui datang untuk bertemu dengan Rasulullah SAW dengan mengendarai onta yang tambatkan dihalam mesjid. Lalu beberapa sahabat yang ada dimesjid mengajukan usul kepada Nuaiman. “Kalau kau mau menyembelih unta Badui ini, maka kita akan makan-makan. Kapan lagi kita makan daging bila tidak ada daging unta ini. Nanti Nabi yang akan menanggung harganya,” Dasar Nuaiman yang memang memiliki sifat usil dan iseng, dia langsung menyembelih unta tersebut. Dan saat Badui tadi mau pulang betapa terkejut dirinya mendapatkan untanya sudah disembelih. Rasulullah SAW pun langsung bertanya kepada sahabat siapa yang melakukan ini, para sahabat pun serempak menjawab Nuaiman.

Lalu Rasulullah SAW mencari Nuaiman yang ternyata bersembunyi disebuah lubang yang ada dirumah Dhuba’ah binti Zubair, Rasulullah SAW yang menemukannya langsung menyuruh Nuaiman untuk keluar yang wajahnya penuh dengan debu. “Apa yang mendorongmu melakukan perbuatan ini?” tanya Rasulullah SAW kepada Nuaiman. “Aku disuruh oleh orang-orang yang menunjukkan tempat persembunyianku ini,” jawab Nuaiman dengan polosnya. Rasulullah SAW langsung menghampiri Nuaiman dan membersihkan wajahnya yang dipenuhi debu sambil tertawa. Dan kali ini, Rasulullah SAW kembali terkena keisengan Nuaiman dan harus menanggung harga unta yang telah disembelihnya tersebut.

Suwaibith

Suwaibith radhiyallahu ‘anhuma adalah pun sahabat Nabi Muhammad SAW. Dia pernah ikut berperang dalam barisan pasukan Nabi pada saat perang badar. Kali ini Nu’aiman bercanda ngerjain sahabat Nabi yang lain yang bernama Suwaibith bin Harmalah. Peristiwa lucu ini terjadi setahun sebelum wafatnya Baginda SAW. Satu ketika kedua sahabat ini pergi mengikuti Sayidina Abu Bakar as Siddiq berniaga di Busra. Ketika itu Suwaibith diserahi tanggung jawab membawa perbekalan makanan. Lalu di suatu tempat Nu’aiman meminta jatah makanan kepada Suwaibith. Suwaibith yang amanah menjalankan tugasnya memberitahu Nu’aiman bahwa dia akan mengeluarkan bekalan tersebut ketika Sayidina Abu Bakar telah tiba di tempat mereka. Nu’aiman jengkel dengan jawaban Suwaibith. Ia berkata; “Sungguh aku akan membuat engkau marah!”

Ketika itu tibalah sekelompok kafilah di sekitar mereka. Nu’aiman mengambil kesempatan dengan bertanya kepada mereka, “apakah kalian mau membeli budak saya yang tangkas dan pandai bicara?” Kafilah tersebut setuju untuk membeli budak dari Nu’aiman seharga 10 unta. Nu’aiman berpesan bahwa budaknya itu akan berkata “saya orang merdeka (bukan hamba sahaya)”. Apabila dia berkata demikian, acuhkan saja dan jangan dengarkan omongannya. Lantas mereka pun mendatangi Suwaibith dan berkata; “Kami telah membelimu!” Suwaibith berkata; “Dia itu pembohong, saya adalah seorang lelaki yang merdeka” Mereka berkata; “Dia telah mengabarkan kepada kami bahwa kamu akan bilang begitu.” Mereka pun mengikatkan tali di leher Suwaibith dan membawanya pergi.

Ketika Sayidina Abu Bakar datang dan ia diberi tahu kejadian tersebut. Lantas ia dan para sahabatnya pergi menemui Kafilah dan menjelaskan kondisi yang sebenarnya lantas mengembalikan 10 unta untuk mengambil kembali Suwaibith. Ketika cerita ini disampaikan kepada Nabi SAW, alih-alih marah kepda sahabat Nu’aiman, baginda Rasul malah tertawa karena kelucuan peristiwa tersebut. Kisah di atas diceritakan ulang dalam Musnad Ahmad, Hadis Nomor 25465. Keusilan beliau ini yang terus berlanjut sampai ke masa khalifah Utsman bin Affan.

Suwaida

Nuaiman terkenal dengan keisengan dan gurauannya dikalangan pria, ada juga wanita yang terkenal lucu dan mampu membuat tertawa seisi rumah Rasulullah SAW yakni Suwaida’. Dan ketika mendapat kabar Suwaida’ sedang sakit, Rasulullah SAW langsung menjenguknya. Dan ketika mendapatkan kabar Suwaida’ telah meninggal dunia, Rasulullah SAW turut menyalatkan dan ikut pula mendoakannya. “Ya Allah, sesungguhnya dia sering membuat kami tertawa, maka tertawakan dan bahagiakanlah dia,” begitulah doa Rasulullah SAW kepada Allah SWT untuk Suwaida’. Itulah gambaran tentang akhlak Rasulullah SAW dalam hal bergaul dengan sahabat-sahabatnya yang tentunya juga memiliki karakteristik yang suka membuat tertawa seperti Suwaida’ maupun yang memiliki keisengan seperti yang ditunjukkan oleh Nuaiman.

Rasulullah SAW sebagai pribadi dengan budi pekerti terbaik sehingga menjadi suri tauladan bagi kita tentunya banyak memberikan contoh kepada kita dalam hal bercanda dan tertawa (sesuatu yang seringkali kita lakukan dalam perjalanan hidup kita). Tertawa Rasulullah SAW tidak terbahak-bahak apalagi dengan suara. Rasulullah SAW akan tertawa bila mendapatkan sesuatu yang membuatnya kagum, senang dan mendapatkan sesuatu yang mengundang tawa. Maksimal tertawanya Rasulullah SAW hanya kelihatan gigi gerahamnya dan sering menutup mulutnya dengan telapak tangan, sorban atau baju luar yang dikenakan saat tertawa. Semoga bermanfaat untuk rekan Kompasioner dalam kita lebih mengenal sosok Rasulullah SAW yang kita cintai.
Pengalaman adalah Guru Terbaik. Oleh sebab itu, kita pasti bisa kalau kita terbiasa. Bukan karena kita luar biasa. Setinggi apa belajar kita, tidahlah menjadi jaminan kepuasan jiwa, yang paling utam…

Posting Komentar